oleh

Ruwatan Jaranan dan Barong Banyuwangian Berumur 25 Tahun di Kampar Riau

KabarBanyuwangi.co.id – Kesenian Tradisional Banyuwangi, sudah lekat di masyarakat Riau, sejak orang asli Banyuwangi berdatangan ke daerah ini Tahun 1980-an. Program Transmigrasi, membawa mereka ke  tempat terpencil seluruh Wilayah Riau.

Dalam kurun waktu tersebut, warga Banyuwang berjuang melawan kesulitan hidup di tempat baru dengan segala keterbatasan yang ada. Kondisi ini  membuat mereka semakin tangguh dan ulet dalam menyelesaikan persoalan hidupnya.

Di sela kesibukan yang mendera, hiburan seni sangat dibutuhkan. Warga transmigran ini bisa terobati, untuk melupakan sejenak dari segala kepenatan sehari-hari. Seni, mereka anggap sebagai pembangkit semangat hidup, untuk terus berjuang di tanah Rantau ini.

Baca Juga: Tanda Tangan Tinta Merah, Wujud Semangat ISG Pusat Besarkan Organisasi

Baca Juga: ISG Riau Lakukan Pengobatan Gratis Saat Pertemuan Rutin Bulanan

Baca Juga: Kerupuk Terkenal di Pekanbaru Riau, Ternyata Hasil Produksi Usaha Milik Orang Banyuwangi

Kang Gatot yang asli Glenmore dan Kang Sutrisno, asli Pesembon Bangorejo, berinisiatif mendirikan kelompok seni Jaranan dan Barong Banyuwangian. Beliau berdua inilah yang juga merupakan sesepuh warga perantau Banyuwangi  di kampung Bina Baru, terkesan cukup gigih mempertahankan budaya Banyuwangi.

Kelompok kesenian yang dibentuknya, masih tetap lestari hingga saat ini. Kesenian jaranan dan Barong yang diberi nama “Taruna Bhirowo Sakti”, sudah berumur hampir 25 tahun. Jam terbangnya juga sudah cukup tinggi, karena mereka sering disewa secara profesional untuk pentas di berbagai daerah di Riau.

Gendhing Banyuwangian oleh biduan lokal Bina Baru, Kampar Riau. (Foto: istimewa)
Gendhing Banyuwangian oleh biduan lokal Bina Baru, Kampar Riau. (Foto: istimewa)

Pada Seni jaranan dan Barongan “Taruno Bhirowo Sakti”, juga memadukan seni jaranan dengan tabuhan angklung dan gending Banyuwangian. Kesenian ini juga didukung oleh biduan lokal, yang piawai membawakan gendhing-gending Using lama juga terkini.

Kombinasi ini, membuat “Taruno Bhirowo Sakti” terkesan modern dan apik. Penggemar dan penggiat seni Banyuwangian di Sumatera, bisa menikmati tanpa harus pulang ke kampung halaman.

Dalam menjaga kelestarian dan keselamatan budaya grup ini, para pendirinya konsisten setiap akhir bulan Muharram selalu mengadakan ritual sesuci atau Ngeruwat (basa using) Jaranan dan Barong. Pada kesempatan Ruawatan itu, Kang Gatot mengundang pengurus ISG Pusat dan Provinsi Riau, sekaligus  bersilaturahim di kampungnya.

Undangan ini disambut baik oleh Kang Amma Kasbani, Ketua  ISG Pusat dan Kang Saiman, Ketua ISG Provinsi Riau. Bersama jajaran pengurus ISG di Pekanbaru semuanya menanggapi positif kegiatan ini. Ikut  juga Kang Nurhidayat, Wakil Ketaua II ISG Pusat, untuk mengawal acara Silaturahim pada, Sabtu (19/09/2020) sore.

Para pengurusISG Pusat dan Propinsi Riau pada acara Ruwatan Jaranan dan Barong. (Foto: istimewa)
Para pengurusISG Pusat dan Propinsi Riau pada acara Ruwatan Jaranan dan Barong. (Foto: istimewa)

Para pengurus ISG Pusat dari Pekanbaru bergerak menuju Desa Bina baru yang jaraknya kurang lebih 70 kilometer dan membutuhkan waktu 1 Jam perjalanan dari Kota Pekanbaru.

Ketua ISG Provinsi Riau, menyampaikan pesan dan menagajak warga Kampar Kiri Tengah, untuk bersama-sama maju dan bergabung melaui wadah Ikawangi. Selain melesatarikan dan memajukan kesenian, wadah ini juga dapat meningkatkan taraf ekonomi dan kesejahteraan warga Banyuwangi di Kampar Kiri Tengah. Diharapkan tahun ini, bisa segera terbentuk ISG Korwil di Kampar Kiri Tengah.

Sementara Kang Amma, dalam sambutannya, ingin mewujudkan impian lebih besar, yaitu dengan menggabungkan masing-masing individu dalam visi misi yang bulat, jika bergabung di Ikawangi Sumatera Group. Agar semua yang dilakukan selama ini, seperti kegiatan kesenian akan berkembang dan dikenal di seluruh penjuru Riau.

Diharapkan acara silaturahim Pengurus ISG dan warga Bina Baru ini, bisa menjadi titik awal membawa “Wong Using” lebih maju dan diperhitungkan keberadaannya di Riau.

 (Penulis:  Hery Susanto, Sekjen ISG Pusat – di Pekanbaru)

_blank

Kabar Terkait