
Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. (Foto: Dok/Istimewa)
KabarBanyuwangi.co.id – Munculnya dinamika dan perbincangan
hangat di tengah masyarakat terkait penayangan film Pesta Babi memantik respons
dari Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita.
Legislator Komisi IV dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa
Timur III yang meliputi Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso ini menilai bahwa
kontroversi tersebut tidak boleh sekadar menjadi kegaduhan, melainkan harus
dijadikan momentum penting untuk merefleksikan kembali tata kelola kehutanan
dan kelestarian lingkungan di Indonesia.
Menurut Sonny, alam semesta beserta seluruh isinya
merupakan ciptaan Tuhan yang diperuntukkan bagi keberlangsungan hidup semua
makhluk. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa manusia tidak boleh serakah dan
semena-mena dalam mengeksploitasi alam.
"Pemanfaatan sumber daya alam kita harus dijalankan
dengan bijaksana. Walaupun atas nama pembangunan energi maupun kepentingan
ketahanan pangan, sungguh tidak dibenarkan jika prosesnya dilakukan dengan cara
merusak alam," kata Sonny kepada KabarBanyuwangi.co.id, Kamis (21/5/2025).
Terkait dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan
pangan nasional, putra daerah Banyuwangi ini menegaskan dukungan penuhnya. Ia
kemudian mengutip pesan historis yang pernah disampaikan oleh Proklamator sekaligus
Presiden pertama RI, Bung Karno.
"Mengutip kalimat yang pernah diucapkan oleh Bung
Karno, bahwa 'Urusan pangan adalah urusan mati hidupnya sebuah bangsa'. Untuk
itu, kami di legislatif mendukung penuh upaya tersebut," tegas politisi
senior PDI Perjuangan ini.
Namun, Sonny memberikan catatan kritis yang sangat
mendasar. Ia mengingatkan agar implementasi program kedaulatan pangan di
lapangan wajib mempertimbangkan tiga aspek utama demi menjaga keseimbangan
ruang hidup di masa depan.
"Catatan pentingnya, upaya-upaya itu harus dilakukan
dengan mempertimbangkan aspek ekologisnya. Kedua, aspek sosiologis dan
antropologisnya, seperti pemenuhan dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat
adat. Dan ketiga adalah aspek filosofisnya," urai Sonny.
Aspek filosofis yang dimaksud, lanjut Sonny, adalah
kesadaran kolektif bahwa alam ini bukan hanya diperuntukkan bagi generasi saat
ini saja, melainkan sebuah warisan yang harus dijaga demi generasi yang akan
datang.
Di akhir penyataannya, legislator dikenal dekat dengan
konstituennya ini menegaskan bahwa penerapan tata kelola pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi sekadar pilihan atau jargon
di atas kertas, melainkan sebuah keharusan yang mutlak dijalankan oleh semua
pihak. (man)