Diskusi pembimgingan proyek tugas akhir mahasiswa di kampus 2017. (Foto: Dok/Pribadi)
KabarBanyuwangi.co.id – Kendala Bahasa dan kondisi narasumber saat penilitian, membuat sejumlah data yang diharapkan tidak muncul. Setelah membaca buku Angklung: Tabung Musik Blambangan karya Elvin Hendrata, ternyata semua data tersebut sudah dimunculkan.
Berikut lanjutan kisah Karsono, M.Sn Dosen Pendidikan Seni, Prodi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang. (Redaksi).
Dari kesamaan data antara hasil penelitian saya dengan Buku
Angklung: Musik-Tabung Blambangan, membuktikan bahwa data tersebut sahih
karena konsistensinya. Terbukti dengan diuji oleh dua peneliti yang sama di
kurun waktu yang berbeda (hampir 17 tahun selisih waktu riset skripsi saya dengan
riset buku Pak Elvin) tetap menunjukkan informasi yang sama.
Hanya memang untuk deskripsi alat musik beberpa mengalami
perubahan, misalnya jumlah bilah gamelan dan angklung yang dulu hanya 13 kini
menjadi 15.
Tahun 2018 hingga 2021 ini, saya meneliti lagi mengenai Angklung Caruk, khususnya dalam hal Festival Angklung Caruk sebagai media pendidikan seni, penelitian untuk penyusunan Disertasi S3 saya di program pascasarjana Pendidikan Seni UNNES Semarang.
Dalam penelusuran pencarian data Disertasi, saya mengalami
beberapa kesulitan untuk menemukan data tersebut. Namun di buku Pak Elvin,
beberapa data yang saya butuhkan tersebut telah ada dan tersedia.
Gedung Pusat UNS bersama mahasiswa Unpatti
Ambon Tahun 2018. (Foto: Dok/Pribadi)
Oleh karena itu, dalam forum bedah buku Pak Elvin saya ijin
untuk menjadikan buku tersebut sebagai rujukan penelitian Disertasi saya.
Sekaligus di forum tersebut saya menyatakan bahwa Buku Pak Elvin adalah Buku
Bank Data (mungkin karena beliau Bankir jadi data juga dibuat Banknya hehe..
bercanda), buku tersebut kaya data.
Mengapa bisa kaya data? Karena Pak Elvin memiliki akses ke
atas dan ke bawah. Artinya, Pak Elvin dekat dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB)
dan dekat dengan para birokrat seni, sehingga data di tingkat birokrasi dapat
dengan mudah ditembus dan dikumpulkan.
Kedua Pak Elvin yang asli Lare Using, juga dekat dengan
seniman rakyat, sehingga ketika membutuhkan data lapangan dapat dengan mudah
dikumpulkan. Sebagai buku yang kaya data maka menjadi penting bagi para
peneliti seni Banyuwangi untuk merujuknya dan menindaklanjuti dengan kajian
yang lebih kritis.
Beberapa data yang saya butuhkan dan sudah tersedia di Buku
Pak Elvin yaitu: Sejarah dan perkembangan Angklung Caruk, Fstival Angklung
Caruk, Informasi penyelenggaraan festival Angklung Caruk, data kepesertaan
festival angklung caruk tahun 2018, perubahan dan perkembangan sistem pelarasan
(tuning system) nada gamelan angklung caruk hingga yang saat ini digunakan
dalam festival, dan Tokoh-tokoh seniman angklung dari masa ke masa sebagai data
proses pewarisan dan pendidikan dalam konteks budaya tradisi.
Memberikan tanggapan saat bedah buku Angkklung
Musik-Tabung Blambangan. (Foto: Dok/Artevac)
Selama enam bulan saya tinggal di Desa Alasamalang, serta
bolak-balik Solo-Banyuwangi mencari dan melangkapi data penelitian, belum juga
lengkap atau sesuatu yang saya inginkan. Setelah membaca Buku Angklung Tabung
Musik-Blambangan adalah buku data yang sangat kaya, mungkin dikritis dan
kembangkan.
Saya sebagai peneliti dari luar (out-sider), mengamatinya
demikian. Tinggal akademisi dan seniman Using sebagai orang dalam (in-sider),
untuk memgembangkan dalam bentuk penelitian lain. Bisa saja dari aspek sosial,
antropologi, etnomusikogi dan bidang ilmu lainnya.
Data tentang laras kaya, belum pernah saya temukan selama
saya tinggal di Banyuwangi. Ini sekaligus sebagai tantangan akadimisi dan
seniman Using, untuk menjelaskan atau menganalisa lebih detail. Sehingga
potensi musik Banyuwangi semakin dikenal luas, juga bisa dipamahami secara
utuh. (Bersambung)