Iklan Banner Atas Luminor Hotel Banyuwangi

Tidak Ditemukan Saat Penelitian, Ternyata Ada Dalam Buku Angklung: Tabung Musik Blambangan (5)Angklung Caruk


Tidak Ditemukan Saat Penelitian, Ternyata Ada Dalam Buku Angklung: Tabung Musik Blambangan (5)

Keterangan Gambar : Diskusi pembimgingan proyek tugas akhir mahasiswa di kampus 2017. (Foto: Dok/Pribadi)

KabarBanyuwangi.co.id – Kendala Bahasa dan kondisi narasumber saat penilitian, membuat sejumlah data yang diharapkan tidak muncul. Setelah membaca buku Angklung: Tabung Musik Blambangan karya Elvin Hendrata, ternyata semua data tersebut sudah dimunculkan.

Berikut lanjutan kisah Karsono, M.Sn Dosen Pendidikan Seni, Prodi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang. (Redaksi).

Dari kesamaan data antara hasil penelitian saya dengan Buku Angklung: Musik-Tabung Blambangan, membuktikan bahwa data tersebut sahih karena konsistensinya. Terbukti dengan diuji oleh dua peneliti yang sama di kurun waktu yang berbeda (hampir 17 tahun selisih waktu riset skripsi saya dengan riset buku Pak Elvin) tetap menunjukkan informasi yang sama.

Baca Juga :

Hanya memang untuk deskripsi alat musik beberpa mengalami perubahan, misalnya jumlah bilah gamelan dan angklung yang dulu hanya 13 kini menjadi 15.

Tahun 2018 hingga 2021 ini, saya meneliti lagi mengenai Angklung Caruk, khususnya dalam hal Festival Angklung Caruk sebagai media pendidikan seni, penelitian untuk penyusunan Disertasi S3 saya di program pascasarjana Pendidikan Seni UNNES Semarang.

Dalam penelusuran pencarian data Disertasi, saya mengalami beberapa kesulitan untuk menemukan data tersebut. Namun di buku Pak Elvin, beberapa data yang saya butuhkan tersebut telah ada dan tersedia.


Gedung Pusat UNS bersama mahasiswa Unpatti Ambon Tahun 2018. (Foto: Dok/Pribadi)

Oleh karena itu, dalam forum bedah buku Pak Elvin saya ijin untuk menjadikan buku tersebut sebagai rujukan penelitian Disertasi saya. Sekaligus di forum tersebut saya menyatakan bahwa Buku Pak Elvin adalah Buku Bank Data (mungkin karena beliau Bankir jadi data juga dibuat Banknya hehe.. bercanda), buku tersebut kaya data.

Mengapa bisa kaya data? Karena Pak Elvin memiliki akses ke atas dan ke bawah. Artinya, Pak Elvin dekat dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan dekat dengan para birokrat seni, sehingga data di tingkat birokrasi dapat dengan mudah ditembus dan dikumpulkan.

Kedua Pak Elvin yang asli Lare Using, juga dekat dengan seniman rakyat, sehingga ketika membutuhkan data lapangan dapat dengan mudah dikumpulkan. Sebagai buku yang kaya data maka menjadi penting bagi para peneliti seni Banyuwangi untuk merujuknya dan menindaklanjuti dengan kajian yang lebih kritis.

Beberapa data yang saya butuhkan dan sudah tersedia di Buku Pak Elvin yaitu: Sejarah dan perkembangan Angklung Caruk, Fstival Angklung Caruk, Informasi penyelenggaraan festival Angklung Caruk, data kepesertaan festival angklung caruk tahun 2018, perubahan dan perkembangan sistem pelarasan (tuning system) nada gamelan angklung caruk hingga yang saat ini digunakan dalam festival, dan Tokoh-tokoh seniman angklung dari masa ke masa sebagai data proses pewarisan dan pendidikan dalam konteks budaya tradisi.


Memberikan tanggapan saat bedah buku Angkklung Musik-Tabung Blambangan. (Foto: Dok/Artevac)

Selama enam bulan saya tinggal di Desa Alasamalang, serta bolak-balik Solo-Banyuwangi mencari dan melangkapi data penelitian, belum juga lengkap atau sesuatu yang saya inginkan. Setelah membaca Buku Angklung Tabung Musik-Blambangan adalah buku data yang sangat kaya, mungkin dikritis dan kembangkan.

Saya sebagai peneliti dari luar (out-sider), mengamatinya demikian. Tinggal akademisi dan seniman Using sebagai orang dalam (in-sider), untuk memgembangkan dalam bentuk penelitian lain. Bisa saja dari aspek sosial, antropologi, etnomusikogi dan bidang ilmu lainnya.

Data tentang laras kaya, belum pernah saya temukan selama saya tinggal di Banyuwangi. Ini sekaligus sebagai tantangan akadimisi dan seniman Using, untuk menjelaskan atau menganalisa lebih detail. Sehingga potensi musik Banyuwangi semakin dikenal luas, juga bisa dipamahami secara utuh. (Bersambung)