Kelompok Angklung Caruk "Sekar Wangi" Pasinan Singojuruh. (Foto: Dok/Artevac)
KabarBanyuwangi.co.id – Berinteraksi dengan masyarakat Using secara intens, hingga bisa berkomukasi dengan bahasa Using. Bahkan perilakunya banyak dipengaruhi masyrakat Using, itu yang membuat Karsono dalam berbagai kesempatan mengaku sebagai orang Using cabang Solo.
Berikut lanjutan kisah Karsono, M.Sn Dosen Pendidikan Seni, Prodi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang. (Redaksi).
Setelah skripsi saya selesai dan karena kecintaan saya pada
masyarakat Using Banyuwangi, saya beberapa kali melakukan diseminasi
(pengenalan) seni budaya dan masyarakat Using.
Dalam bentuk tulisan saya merilis beberapa tulisan
reportase seni yang saya kirimkan ke majalah Gong Yogyakarta, antara lain
tulisan berjudul: “Angklung Caruk Banyuwangi: Kompetisi Tanpa Konflik” (2002),
“Saminten: Saya Bangga Menjadi Tandak” (2003), “Mocoan Banyuwangi: Menggapai
Cahya Yusuf” (2004).
Selain itu saya juga memproduksi album rekaman audio yang
dilengkapi informasi penejelas (leaflet) dengan judul “Angklung Caruk
Banyuwangi” 2004. Selanjutnya saya mempromosikan Banyuwangi, dengan mengajak
ISI Surakarta melakukan dokumentasi musik-musik tradisi Banyuwangi yang
disertai informasi mengenai musik tersebut secara tertulis (leaflet).
Akhirnya dapat diproduksi 2 album Audio musik Banyuwangi
yaitu: (1) Hadrah Kuntulan Banyuwangi: Musik Akulturasi, (2004), (2) Mocoan
Banyuwangi: Menggapai Cahya Yusuf, (2004). Hingga kini dokumentasi audio
tersebut masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Musik Nusantara, Prodi
Etnomusikologi, ISI Surakarta dengan kualitas audio yang cukup baik dan
tersimpan dalam keping DVD.
Berbagai pengalaman hidup yang telah diajarkan oleh
masyarakat Using kepada saya, dan berbagai ilmu kesenian yang telah diajarkan
oleh para seniman Using kepada saya membuat saya merasa bangga menjadi bagian
dari masyarakat tersebut.
Atas kebanggan budaya dan rasa terima kasih saya yang dalam
kepada masyarakat Using, dalam beberapa kesempatan saya selalu mengaku sebagai
Wong Using cabang Solo.
Mungkin saya memang tidak dilahirkan sebagai keturunan
Using, namun dalam beberapa tindakan berperikehidupan saya mengambil beberapa
falsafah Using, mencontoh pelajaran kebaikan dari mereka, yang bersedia memberi
tanpa pernah berpamrih, yang mendekat dan membuka diri tanpa pernah ada
prasangka.
Kelompok Angklung Caruk "Sekar
Tanjung" Alasmalang, Singojuruh. (Foto: Dok/Artevac)
Penelitian saya derajat S1 (Sarjana S1 Etnomusikologi) yang
saya lakukan tahun 2003-2004 dulu fokus untuk melihat Seni pertunjukan Angklung
Caruk sebagai sarana membangun identitas seniman di tengah masyarakat. Seniman
atu kelompok yang identitasnya (dikenal masyarakat) sebagai kelompok yang Apik
(Bagus) maka akan bertahan, sedangkan yang Elek (Jelek) akan tidak
ditanggap dan akhirnya mengalami kemunduran.
Topik penelitian saya tersebut berbeda dengan fokus Buku
Pak Elvin Hendratha, Angklung: Tabung-Musik Blambangan (2021). Namun ada
data-data yang beririsan atau ada kesesuaian dari penelitian saya dan buku Pak
Elvin antara lain:
(1) Deskripsi mengenai alat musik dalam perangkat gamelan
angklung dari mulai Angklung hingga Gong,
(2) Penjelasan mengenai tokoh dalam wayang gambaran
(hiasan) ancak angklung yang sama-sama menyebut tokoh Indrajit dan Gatotkaca,
(3) Adanya peran Kik Druning atau Dik Druning, seorang
tokoh yang memungkinkan terjadinya interaksi budaya musik antara Banyuwnagi
dengan Bali, khususnya dalam kehadiran perangkat gamelan besi di Banyuwangi,
(4) Adanya ilmu mejik atau mistik dalam persaingan angklung
caruk seperti dikisahkan Pak Awik Badut Sekar Tanjung Alas Malang yang menderita
pembesaran buah zakar setelah terkena mejik dari pihak lawan, mejik dapat
berupa belalang atau makhluk terbang yang lain. (Bersambung)