Mengaku Wong Using Cabang Solo, Karena Perilakunya Terpengaruh Masyarakat Using (4)Angklung Caruk

Mengaku Wong Using Cabang Solo, Karena Perilakunya Terpengaruh Masyarakat Using (4)

Kelompok Angklung Caruk "Sekar Wangi" Pasinan Singojuruh. (Foto: Dok/Artevac)

KabarBanyuwangi.co.id – Berinteraksi dengan masyarakat Using secara intens, hingga bisa berkomukasi dengan bahasa Using. Bahkan perilakunya banyak dipengaruhi masyrakat Using, itu yang membuat Karsono dalam berbagai kesempatan mengaku sebagai orang Using cabang Solo.

Berikut lanjutan kisah Karsono, M.Sn Dosen Pendidikan Seni, Prodi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang. (Redaksi).

Setelah skripsi saya selesai dan karena kecintaan saya pada masyarakat Using Banyuwangi, saya beberapa kali melakukan diseminasi (pengenalan) seni budaya dan masyarakat Using.

Baca Juga :

Dalam bentuk tulisan saya merilis beberapa tulisan reportase seni yang saya kirimkan ke majalah Gong Yogyakarta, antara lain tulisan berjudul: “Angklung Caruk Banyuwangi: Kompetisi Tanpa Konflik” (2002), “Saminten: Saya Bangga Menjadi Tandak” (2003), “Mocoan Banyuwangi: Menggapai Cahya Yusuf” (2004).

Selain itu saya juga memproduksi album rekaman audio yang dilengkapi informasi penejelas (leaflet) dengan judul “Angklung Caruk Banyuwangi” 2004. Selanjutnya saya mempromosikan Banyuwangi, dengan mengajak ISI Surakarta melakukan dokumentasi musik-musik tradisi Banyuwangi yang disertai informasi mengenai musik tersebut secara tertulis (leaflet).

Akhirnya dapat diproduksi 2 album Audio musik Banyuwangi yaitu: (1) Hadrah Kuntulan Banyuwangi: Musik Akulturasi, (2004), (2) Mocoan Banyuwangi: Menggapai Cahya Yusuf, (2004). Hingga kini dokumentasi audio tersebut masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Musik Nusantara, Prodi Etnomusikologi, ISI Surakarta dengan kualitas audio yang cukup baik dan tersimpan dalam keping DVD.

Berbagai pengalaman hidup yang telah diajarkan oleh masyarakat Using kepada saya, dan berbagai ilmu kesenian yang telah diajarkan oleh para seniman Using kepada saya membuat saya merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat tersebut.

Atas kebanggan budaya dan rasa terima kasih saya yang dalam kepada masyarakat Using, dalam beberapa kesempatan saya selalu mengaku sebagai Wong Using cabang Solo.

Mungkin saya memang tidak dilahirkan sebagai keturunan Using, namun dalam beberapa tindakan berperikehidupan saya mengambil beberapa falsafah Using, mencontoh pelajaran kebaikan dari mereka, yang bersedia memberi tanpa pernah berpamrih, yang mendekat dan membuka diri tanpa pernah ada prasangka.


Kelompok Angklung Caruk "Sekar Tanjung" Alasmalang, Singojuruh. (Foto: Dok/Artevac)

Penelitian saya derajat S1 (Sarjana S1 Etnomusikologi) yang saya lakukan tahun 2003-2004 dulu fokus untuk melihat Seni pertunjukan Angklung Caruk sebagai sarana membangun identitas seniman di tengah masyarakat. Seniman atu kelompok yang identitasnya (dikenal masyarakat) sebagai kelompok yang Apik (Bagus) maka akan bertahan, sedangkan yang Elek (Jelek) akan tidak ditanggap dan akhirnya mengalami kemunduran.

Topik penelitian saya tersebut berbeda dengan fokus Buku Pak Elvin Hendratha, Angklung: Tabung-Musik Blambangan (2021). Namun ada data-data yang beririsan atau ada kesesuaian dari penelitian saya dan buku Pak Elvin antara lain:

(1) Deskripsi mengenai alat musik dalam perangkat gamelan angklung dari mulai Angklung hingga Gong,

(2) Penjelasan mengenai tokoh dalam wayang gambaran (hiasan) ancak angklung yang sama-sama menyebut tokoh Indrajit dan Gatotkaca,

(3) Adanya peran Kik Druning atau Dik Druning, seorang tokoh yang memungkinkan terjadinya interaksi budaya musik antara Banyuwnagi dengan Bali, khususnya dalam kehadiran perangkat gamelan besi di Banyuwangi,

(4) Adanya ilmu mejik atau mistik dalam persaingan angklung caruk seperti dikisahkan Pak Awik Badut Sekar Tanjung Alas Malang yang menderita pembesaran buah zakar setelah terkena mejik dari pihak lawan, mejik dapat berupa belalang atau makhluk terbang yang lain. (Bersambung)