oleh

Tidak Pernah Tampil, Seniman Janger Jadi Tukang Sablon Kaos

KabarBanyuwangi.co.id – Tidak ada udangan pentas, atau tanggapan, membuat panjak kesenian tradisional Banyuwangi kembali bertani. Karena mereka tidak mendapatkan penghasilan tambahan dari kegiatan kesenian tradisional Banyuwangi. Seperti dituturkan salah satu Pemilik Kelompok Janger Tanjung Wangi Budoyo, Suwito (43), warga Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

“Kalau saya pribadi, kebetulan mewarisi kegiatan Bapak sebagai petani. Sejak tidak ada tanggapan mulai bulan Februari 2020, praktis kegiatan banyak di sawah. Panjak dan aktor Janger saya yang kebingungan, mereka awalnya buruh tani dan pekerja serabutan. Dengan tidak adanya penghasilan tambahan dari Janger, tambah bingung. Saya juga tidak bisa berbuat banyak,” ujar Suwito saat dihubungi kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (26/7/2020).

Bapak 2 anak yang akrab dipanggil Wito Janger ini menambahkan, beberapa program pemerintah untuk seniman terdampak Covid-19 sudah didengar. Namun setelah ada yang mencoba, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

“Rata-rata panjak saya tidak perpendidikan cukup, juga tidak memiliki handphone android. Jadi agak kesulitan mengikuti program pemerintah, akhirnya kembali ke sawah atau ke Bali untuk menjadi tukang batu,” tambah Wito.

Baca Juga: Setelah Vakum Tabuhan Soren Dimulai Lagi, Penonton Sulit Dihalau

Baca Juga: Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

Baca Juga: Pelawak Tradisional Bingung Cari Format Penampilan di Era New Normal

Ada juga aktor Janger Tanjung Wangi Budoyo, sekarang beralih sebagai tukang sablon Kaos. Kegiatan ini dilakukan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Mereka menyablon kaos, dengan gambar Janger Tanjung Wangi Budoyo. Kemudian dijual ke sasama panjak, banyak juga dijual ke penggembar Janger Tanjung Wangi. Ini ada beberapa yang melakukan, dengan menjual brand Janger. Saya ya ikut memberi semangat, sebagi bentuk dukungan,” kata Wito dengan bangga.

Penampilan Janger Tanjung Wangi dalam sebuah undangan Hajatan sebelum Covid-19. (Foto: istmewa)
Penampilan Janger Tanjung Wangi dalam sebuah undangan Hajatan sebelum Covid-19. (Foto: istmewa)

Jika tidak ada pandemi, Wito mengaku sudah mendapat job tanggapan dari sejumlah tempat. Mereka ada yang sudah memberi uang muka, tatapi gagal karena ada larangan dari pemerintah.

“Uang muka langsung saya belikan property tambahan. Alhamdulillah, tidak ada yang minta dikembalikan. Mereka tahu kondisi, tetapi ada yang menunda sampai ada perubahan dari pemerintah,” terang Wito.

Terkait kabar ada seniman tradisional hingga alih profesi, Suwito mengaku hanya mendengar, tetapi tidak sampai menjual seperangkat gamelan seperti yang diceritakan orang.

“Alhamdulillah, gamelan Janger saya selama pandemi justru dimanfaatkan anak saya. Bersama-sama teman sekolahnya di SMP. Anak saya membuat konten Youtube dengan gamelan janger yang tidak pernah digunakan selama 4 bulan lebih,” pungkas Wito yang awalnya ingin membuat Group Janger lagi dengan sekretariat di Songgon. (sen)

_blank