oleh

Warung “Sego Tempong” Mbok Wah, Omzetnya Turun 50 Persen Lebih Selama Pandemi

KabarBanyuwangi.co.id – Meski  sudah mulai berkativitas kembali, namun omzet  Warung “Sego Tempong” Mbok Wah di Jl. Gembrung No.220, Lingkungan Watu Ulo, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, omnzetnya masih jauh dibanding hari normal sebelum pandemi. Jika sebelumnya cabe sebagai bahan baku bisa menghabiskan 10 kilogram lebih sehari, sekarang kurang dari 5 kilogram sebarang.

“Sebelumnya, ikan laut sehari saya bisa menghabiskan 2 kwintal dipasok langsung dari pedagang. Sekarang saya harus membeli sendiri di Kampung Ujung, karena kebutuhan saya hanya 20 kilogram ikan laut. Biasanya untuk ‘dipelas’ (pepes-Red), Goreng, masak Pindang Koyong, juga masakan pedas,” kata Miswah (63) atau biasa dipanggil, Mbok Wah kepada kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (11/10/2020) malam.

Seperti Warung Makan lainnya di Banyuwangi, Warung Sego Tempong legendaris ini juga menerapkan Protokol kesehatan. Semua pelayan mengenakan sarung tangan, masker dan pace shield. Tersedia juga tempat cuci tangah bagi pengunjung, beserta sabun cucinya. Tempat duduk lesehan juga dibuat renggang, atau berjarak.

Jumlah karyawan sebanyak 14 orang, pernah diliburkan total saat warung tutup. Namun sekarang sudah kembali beroperasional, tetapi karyawan yang semua tetangganya di Bakungan, masuk kerja secara bergiliran.

“Itu semua yang ngatur mereka, karena kalau masuk semua dengan kondisi sekarang, pemasukan tidak cukup membayar karyawan,” kata istri Sunarso (60).

Baca Juga: Perjuangan Warung Makan Sego Tempong Mbok Wah Lolos Sertifikasi Protap Covid-19

Baca Juga: Tidak Patuhi Protokol Covid-19 Sejumlah Warung Ditutup Paksa

Baca Juga: Keliling 3 Pekan, Banyuwangi Sertifikasi Protokol Covid-19 ke 300 Warung Rakyat

Mbok Wah mengawali berjualan “Sego Tempong” sejak 20 tahun lalu, setelah pesanan dari Polsek Giri, Banyuwangi kemudian masakanya menjadi terkenal di kalangan Kepolisian hingga Polda Jawa Timur.

“Kebetulan, suami saya pemborong bangunan dan sedang mengerjakan proyek di sana. Kapolseknya yang tahu saya jualan makanan keliling kampung, kemudian pesan nasi sambal melalui suami saya. Setelah itu, saya dibikinkan warung sederhana dan tidak jualan keliling kampung lagi,” ujar nenek 2 cucu dari dua anaknya ini.

Kendati sudah operasional kembali, pelanggan Mbok Wah hanya ramai pada siang hari, atau saat makan siang. Jam operasional selama pandemi, mulai jam 8 pagi hingga jam 9 malam.

“Sebelumnya hingga jam 11 malam, pembeli masih berdatangan. Apalagi warung ini dekat dengan Stasiun Karangasem, sehingga banyak pembeli dari luar kota makan di sini sambi menunggu kereta api terakhir yang membawanya ke Surabaya,” tambah Mbok Wah.

Miswah atau Mbok Wah bersama suami, Sunarso. (Foto: sen)
Miswah atau Mbok Wah bersama suami, Sunarso. (Foto: sen)

Kuliner legendaris Sambel Tempong Mbok Wah tidak hanya dikenal di Banyuwangi, para penyuka kuliner padas di sejumlah daerah yang pernah datang ke Banyuwangi dipastikan sudah mencobanya. Para pejabat mulai dari tingkat Kabupaten, Provisi dan sejumlah Menteri juga pernah menikmati masakan Mbok Wah.

“Sambal Tempong saya sudah sampai Jakarta, karena pelanggan di Jakarta sering telepon minta dibikinkan sambal tempong dan saya masukan prizer. Nanti saat tiba di Banyuwangi, pesanan itu diambil untuk dinikmati bersama keluarganya di Jakarta,” jelas Mbok Wah yang mengaku memasakanya menggunakan tungku (Bengahan–Using) dengan kayu bakar ini.

Seporsi “Sego Tempong”  terdiri beragam lauk pilihan, seperti Pelasan, Ikan Laut Goreng, Udang Goreng Tepung, Paru, Ayam Goreng, Pindang Koyong dan aneka sayur rebus.

“Sambal saya selalu baru, jadi terasa segar. Saya sengaja tidak menggunakan ‘ranti’ seperti umumnya orang Banyuwangi, tetapi menggunakan tomat sayur biasa. Pertimbangannya kalau menggunakan ranti, kawatir tidak ajeg adanya, tidak seperi tomat. Namun rasanya tidak jauh berbeda,” ujar Mbok Wah yang selalu memantau langsung saat karyawannya memasak dan menyajikan.

Warung makan Sego Tempong Mbok Wah "Kangene Ati". (Foto: sen)
Warung makan Sego Tempong Mbok Wah “Kangene Ati”. (Foto: sen)

Pelanggahn Sego Tempong Mbok Wah, tidak hanya perorangan atau karyawan kantoran saja. Tidak sedikit rombongan wisatawan yang datang ke Banyuwangi, ada yang mengagendakan makan siang atau malam di Warung Mbok Wah. Bahkan Mbok Wah sekarang melengkapi fasilitas usahanya, dengan mendirikan Sangar Tari “Bakung Lestari” yang dikelola adiknya.

“Banyak pelanggan rombongan, saat makan di sini sekalgus ingin dihibur kesenian dan tarian khas Banyuwangi. Makanya saya bangun sanggar, sekaligus halaman depannya bisa untuk parkir mobil,” pungkas Mbok Wah. (sen)

_blank

Kabar Terkait