
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Gerakan sosial Aparatur Sipil Negara (ASN) Banyuwangi Berbagi kembali digulirkan. Kali ini program yang digelar tiap bulan tersebut, menyalurkan puluhan ribu paket sembako kepada keluarga miskin yang telah masuk dalam database kemiskinan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama ribuan ASN mendatangi rumah-rumah keluarga pra sejahtera untuk menyalurkan bantuan paket sembako. Salah satunya Bermawi (81), warga Lingkungan Wonosari, RT 02/RW 01, Kelurahan Sobo, Rabu (28/1/2026).
Bermawi hidup seorang diri.
Istrinya telah meninggal dunia dan tidak memiliki anak. Ia juga tak memiliki
rumah dan selama ini menumpang di rumah Ketua RT, Selamet. Sehari-hari, dia
bekerja serabutan sebagai buruh tani dan membantu pekerjaan ringan warga
sekitar demi menyambung hidup.
“Alhamdulillah, terima kasih.
Bantuan ini sangat berarti untuk saya,” ucap Bermawi lirih, usai menerima paket
sembako.
Ipuk mengatakan, ASN Banyuwangi
Berbagi merupakan gerakan sosial yang telah berjalan secara konsisten sejak dua
tahun terakhir sebagai bentuk kepedulian bersama.
“Ini adalah gerakan rutin yang
telah kita lakukan bersama-sama sejak 2024 lalu. Kami dorong ASN untuk terus
melakukan aksi sosial, berbagi rejeki untuk meringankan beban ekonomi keluarga
kurang mampu,” kata Ipuk.
Setiap ASN telah mendapatkan data
warga miskin yang telah tertera di aplikasi Smart Kampung. Data tersebut
merupakan data warga miskin yang masuk dalam desil 1 Data Tunggal Sosial dan
Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos.
“Kami berharap lewat program yang
kami lakukan secara berkelanjutan ini ditambah berbagai program pemberdayaan
dan pengentasan kemiskinan lainnya akan semakin mengurangi penduduk miskin
Banyuwangi secara signifikan,” harap Ipuk.
Tidak hanya melibatkan ASN saja,
program ini juga mendapatkan banyak dukungan dari lintas sektor. Seperti
kepolisian, TNI, BUMN, BUMD, para pengusaha hingga organisasi profesi di
Banyuwangi.
“Program Banyuwangi Berbagi ini
terbuka, kami mengajak dan memberikan kesempatan semua pihak bisa terlibat karena
kami menyadari penanganan kemiskinan harus bersama-sama. Tidak bisa dilakukan
sendiri oleh pemerintah, melainkan harus melibatkan banyak pihak termasuk para
ASN,” jelas Ipuk.
Sejak 2025 lalu, program ini
diikuti oleh banyak kalangan masyarakat. Seperti organisasi HIPMI, Kadin,
Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia Banyuwangi, hingga Ikatan
Bidan Indonesia. Termasuk juga partisipasi dari rumah sakit swasta hingga
pengusaha konstruksi.
Dengan berbagai program yang
digulirkan Bupati Ipuk, angka kemiskinan Banyuwangi terus menurun setiap tahun.
Tercatat 8,07 persen (2021); 7,51 persen (2022), 7,34 persen (2022), 6,8 persen
(2024) dan mencapai angka terendah sepanjang sejarah daerah yakni 6,13 persen
di tahun 2025.
Salah satu ASN yang terlibat
dalam program ini, Ratna Juwita mengaku bangga sekaligus haru dengan program
ASN Berbagi ini yang menjadikan wajib melihat sekeliling untuk berbagi.
Menurutnya, ini akan menumbuhkan rasa empati dan pengingat mereka bahwa masih
banyak keluarga tidak mampu yang perlu dibantu.
“Kami merasa inilah implementasi
filosofi “Kalau kita susah, lihatlah ke bawah". Bukan berarti merendahkan
yang lain, namun mengingatkan kita semua agar dalam memandang dunia kita tidak
meremehkan nikmat Allah, harus mensyukuri setiap nikmat yang kita dapat,” kata
Ratna.
Ditambahkan Asisten Administrasi
Umum Budi Santoso, bahwa program ASN Banyuwangi melibatkan oleh PNS dan PPPK
penuh waktu.
“Semua ASN Banyuwangi, kecuali
PPPK Paruh Waktu, dilibatkan dalam program ini. Semakin tinggi jabatan ASN maka
semakin banyak sembako yang akan disalurkan. Sehingga di program ini sembako
yang terkumpul lebih dari jumlah sasaran yang dijangkau,” ujar Budi.
Ditambahkan dia, program ini
sekaligus bentuk “ground check” para warga miskin yang ada di database
kemiskinan. ASN secara tidak langsung akan ikut memantau warga yang menajadi
sasarannya.
“ASN kami minta juga untuk melihat kondisi sasaran warganya. Apakah sudah dapat bantuan rutin dari pemerintah, apakah ada keluarga yang sakit untuk perlu segera ditangani. Semua dilaporkan di aplikasi Smart Kampung,” kata Budi. (*)