oleh

Ini Kisah Hidup BMI Asal Banyuwangi di Hongkong Saat Lockdown Kedua

KabarBanyuwangi.co.id – Lika-liku Hongkong yang penuh aktivitas keseharian, penuh perjuangan untuk tetap hidup di tengah masalah dan wabah penyakit. Pemerintah Hongkong juga telah berusaha menolong rakyatnya, dengan mengucurkan dana kurang lebih sepuluh ribu dolar per keluarga, membantu memberikan masker kain bagi rakyatnya.

Sebelumnya didaftar secara online, kemudian masker dikirimkan melalui pos. Masker tersebut berisi satu biji saja, diberikan gratis. Setiap keluarga maksimal mendaftarkan enam orang, disesuaikan nama dan nomor KTP yang bersangkutan. Mahalnya harga masker, hand sanitizer berikut alat kesehatan berkaitan wabah corona yang entah sampai kapan akan berakhirnya.

Diantara wabah yang berkecamuk semakin menggila, tarif kendaraan di HongKong masih tetap sama tidak ada kenaikan yang signifikan. Taksi, bis, kereta listrik atau yang sering disebut MTR (mass transit railway), kendaraan teng, kapal laut masih tetap beroperasi meskipun ada pengurangan armada.

Baca Juga: Hongkong Lockdown Lagi, dan Larangan Sholat Idul Adha

Baca Juga: Wisata Pantai Ma On Shan Saat Lockdown

Berbeda dengan kereta MTR yang rute perjalanannya di daerah perkotaan, ada juga KCR yang route perjalanannya di daerah NT atau New Teritoris dengan bentuk kereta yang sama, teng-teng juga melewati rute di daerah Hongkong kota saja.

Kereta Kowloon Canton Railway (KCR), moda transfortasi untuk daerah NT (New Teritories), kalau daerah kota arane MTR (Mass Transit Railway). (Foto: Tirto Arum Hongkong)
Kereta Kowloon Canton Railway (KCR), moda transfortasi untuk daerah NT (New Teritories), kalau daerah kota arane MTR (Mass Transit Railway). (Foto: Tirto Arum Hongkong)

Teng-teng adalah kereta tingkat dengan bentuk lebih ramping, tetapi di atas atapnya tersambung seperti kabel listrik yang seakan kendaraan itu didorong oleh kabel. Jalan kereta ini juga seperti kereta di Indonesia, melewati rel biasa meski alasnya tidak ada bantalan rel, karena rel sudah tertanam di tanah langsung.

Belnya yang khas tentunya teng-teng begitu suaranya, kendaraan inipun memiliki halte sendiri meskipun di sampingnya juga bis tingkat, taksi atau mobil yang sedang berjalan. Hanya KCR dan MTR saja yang memiliki stasiun, dan setiap stasiun dengan stasiun lain berdurasi lima menit untuk kedatangan.

Sama halnya Teng-Teng ini yang sedang berjalan, bis atau kendaraan bermotor ini berhenti ketika lampu rambu-rambu jalan menyala merah selain berhenti di halte masing-masing. Sedang rute kapal laut memiliki pelabuhan sendiri, hanya untuk rute daerah To Kwa Wan-Northpoin, Wan chai-Hunghom.

Meskipun Hongkong memiliki laut seperti Ma on Shan, Tuen Mun, Saikung, Muiwo atau laut lainnya. Lama perjalanan kapal laut  hanya seperti perjalanan dari pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Perjalanan laut ini, dilintasi  kapal kecil untuk penumpang dan kapal besar untuk pengangkut pasir.

Hongkong dengan segudang kisah eksotisnya, tentu membuat siapapun ingin mengunjunginya. Negara kecil yang seakan tidak pernah tidur, tentu dengan gemerlap lampu-lampu yang sangat cantik dan ketika dihari-hari perayaan Imlek, Natal, Tahun Baru pesta kembang apipun tidak kalah menariknya. Gedung-gedung tinggi menjulang, berikut taman yang indah dipersembahkan untuk mempercantik diri.

Kota Beton: Hongkong terkenal julukan sebagai Kota Beton, karena banyaknya bangunan beton tinggi menjulang. (Foto: Tirto Arum Hongkong)
Kota Beton: Hongkong terkenal julukan sebagai Kota Beton, karena banyaknya bangunan beton tinggi menjulang. (Foto: Tirto Arum Hongkong)

Dibandingkan Indonesia yang luas dengan aneka ragam yang ditawarkan, tentu keindahan pariwisata, pertanian, kelautan, kekayaan alam, seni, budaya, ragam corak bahasa dan adat istiadat. Hongkong hanya sebuah negara kecil, dengan atribut negara beton. Pertanianpun tidak seluas dan sesubur Indonesia, hanya sekitar nol koma atau satu persen saja.

Baca Juga: Larosa Arum: Komunitas Buruh Migran Pelestari Gandrung di Hongkong

Namun hantaman Covid-19 membuat seluruh dunia berjalan terseok, utamanya Hongkong yang sebelumnya terjangkit virus sars di tahun 2014 kini Covid-19 juga menelan banyak korban hingga ribuan. Pemerintah juga menyampaikan bahwa rumah sakit semakin mengkhawatirkan, karena banyaknya masyarakat yang positif terinfeksi.

Covid-19 juga berimbas pada para Buruh Migran Indonesia (BMI) sebagai pemasok devisa terbesar negara dan lebih parahnya semakin banyak pekerja yang dirumahkan, termasuk BMI asal Banyuwangi. Selain itu banyak juga para asisten rumah tangga terpaksa merogoh kocek pribadi atau uang gaji, untuk membeli peralatan kesehatan.

Mengingat tidak semua majikan menyediakan fasilitas kesehatan, karena mahalnya harga peralatan kesehatan seperti masker dan lain sebagainya. Ya Tuhan, berikan kami kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi wabah ini. Engkaulah pemilik seluruh alam, kesedihan dan kebahagiaan, Engkau yang memberikan penyakit dan Engkau pula pemilik obatnya.

(Penulis: Tirto Arum, BMI asal Banyuwangi di Sai Wanho, Hongkong)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank

Kabar Terkait