Mengintip Museum Blambangan, Pusat Wisata Edukasi Budaya di Banyuwangi yang Tampilkan 4.300 KoleksiDisbudpar Banyuwangi

Mengintip Museum Blambangan, Pusat Wisata Edukasi Budaya di Banyuwangi yang Tampilkan 4.300 Koleksi

Edukator Museum Blambangan, Bayu Ari Wibowo, S.S. senantiasa melayani pengunjung dengan menjelaskan koleksi secara detail. (Foto: Firman)

KabarBanyuwangi.co.id - Museum Blambangan menjadi salah satu tempat untuk mengenal lebih jauh sejarah dan budaya di Kabupaten Banyuwangi, khususnya tentang Kerajaan Blambangan.

Berada dalam lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, museum yang saat ini menampilkan sebanyak 4.300 koleksi objek bersejarah itu berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 76, Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi.

Edukator Museum Blambangan, Bayu Ari Wibowo, S.S. mengatakan, Museum Blambangan didirikan pada tanggal 25 Desember 1977 lalu. Awalnya museum tersebut berada di lingkungan Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, kemudian dipindahkan ke pelinggihan Disbudpar Banyuwangi pada tahun 2004.

Baca Juga :

"Saat berada dalam lingkungan Disbudpar Banyuwangi, museum ini awalnya terletak di pelinggihan atau gedung tengah. Lalu karena efisiensi, pada tahun 2017 berpindah ke halaman depan supaya lebih terlihat," kata Bayu, yang menjadi Kurator Museum sejak tahun 2015 itu kepada KabarBanyuwangi.co.id, Selasa (10/10/2023).

Bayu mengungkapkan, museum yang memiliki luas 830 meter persegi ini tampilkan 4 macam koleksi besar, yaitu Prasejarah, Hindu-Budha, Islam, dan Kolonial.

“Dari ribuan koleksi di sini paling dominan adalah objek bersejarah yang berkaitan dengan Hindu-Budha. Site plan yang kami tampilkan tertata sesuai masing-masing koleksi besar,” ungkapnya.


Tablet, benda bersejarah sebagai sarana persembahan dan bekal kubur pada masa Hindu-Budha di Museum Blambangan. (Foto: Firman)

Sebanyak 4.300 koleksi yang tertata rapi di Museum Blambangan terdiri dari beragam klasifikasi, yaitu Etnografi, Arkeologi, Numismatika, Fiologika, Keramologika, Historika, Teknologika, dan Seni Rupa.

“Masterpiece-nya, kami ada koleksi Tablet dan Materai yang terbuat dari media tanah liat dengan berisi Mantra, bernama YT Mantra yang merupakan Mantra Budha sebagai pemujaan. Keunikannya, di tengah-tengah Materai terdapat 5 baris tulisan yang beraksara Jawa Kuno. Sedangkan Tablet, ditengahnya terdapat relief Dhyani Bodhisattwa,” ungkap Bayu, Arkeolog jebolan Universitas Udayana itu.

“Dari koleksi Tablet dan Materai yang kami temukan di Situs Gumuk Klinting, Kecamatan Muncar ini dapat disimpulkan bahwa eksistensi Kerajaan Blambangan lebih tua daripada Majapahit. Dapat terlihat dari aspek bentuk aksara, periodesasinya pada abad ke 9 sampai ke 11,” imbuh warga asal Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo ini.

Menurut Bayu, di Museum Blambangan ini memiliki banyak koleksi yang juga dapat menjadi objek edukasi budaya. Bahkan, dari koleksi-koleksi yang ditampilkan terdapat fakta menarik yang masih belum banyak diketahui masyarakat luas, khususnya warga Banyuwangi.

“Alhamdullillah, jumlah kunjungan di sini terus meningkat pasca Covid-19. Karena kebanyakan pengunjung dari pelajar/mahasiswa, mungkin sempat menurun jika tahun ajaran baru mau dimulai. Ada juga wisatawan mancanegara, dari Australia, Amerika Serikat, bahkan Afrika Selatan,” tegasnya.


Beragam foto-foto bersejarah yang ditampilkan di ruang Banyuwangi Tempo Doeloe lingkungan Disbudpar Banyuwangi. (Foto: Firman)

Perlu diketahui, seluruh koleksi di Museum Blambangan terdapat barcode yang dapat membantu pengunjung mengetahui detail dari benda bersejarah tersebut. Selain di ruang museum, pengunjung juga dapat mengunjungi ruang Banyuwangi Tempo Doeloe, ruang Geopark Ijen, ruang Bioskop, dan ruang Rumah Adat Osing.

Sebagai informasi, Museum Blambangan beroperasi mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB di hari Senin sampai Kamis, sedangkan di hari Jumat beroperasi mulai 08.00 – 14.30 WIB. Museum mampu menampung kapasitas 50 orang per 2 jam.

Dalam satu sesi kunjungan dikenakan tarif tiket masuk yang relatif ramah dikantong, yakni Rp. 2.500 untuk pelajar/mahasiswa, Rp. 5.000 untuk umum/perorangan, dan Rp. 15.000 untuk wisatawan mancanegara.

Lebih lanjut, pengunjung perorangan maupun rombongan dapat mengunjungi link museum.banyuwangikab.go.id untuk melakukan booking. Setelah melakukan pengisian data, pengunjung dapat mengunjungi Museum Blambangan sesuai jadwal dan sesi yang ditentukan. (man)