Bumi Sroyo

Mozes Misdy, Pelukis Senior Mudah Berbagai Ilmu dan Jadi InspiratorSeniman Lukis


Mozes Misdy, Pelukis Senior Mudah Berbagai Ilmu dan Jadi Inspirator

Keterangan Gambar : Joko Sutrisno dan Lukisan karya Mozes Misdy. (Foto: Istimewa)

KabarBanyuwangi.co.id -  Sosok Mozes Misdy bagi seniman Banyuwangi, adalah pribadi yang meninggalkan dengan berjuta kesan. Meskipun keras dalam kehidupannya, tidak memandang siapa pun (pelukis), suka memberi saran dan berbagi ilmu tentang kesenian.

“Meskipun tidak ada pelajaran teori yaang diberikan khsusus tentang kesenian kepada anak-anak muda yang sering ditemui, tetapi Pak Mozes menunjukkan proses berkesenian itu kepada anak-anak muda. Dari mereka yang punya bakat serta intens, Pak Mozes juga akan memperhatikan secara khusus,” ujar Joko Sutrisno, pelukis yang lama menemani Pak Mozes pada tahun 1990-an.

Joko  menjadi saksi perjalanan Pak Mozes, karena selain sering kumpul saat berproses, Joko juga kerap diajak pergi mengikuti kegiatan pameran, hingga kenal teman-teman Pak Mozes.

Baca Juga :

“Begitu kuatnya pengaruh Pak Mozes terhadap karya seni lukis, banyak perupa muda meniru gaya Pak Mozes, meski mereka sama sekali tidak pernah bertemu Pak Mozes. Selain di Bali tempat saya tinggal sekarang, juga di Bandung dan beberapa daerah, banyak pelukis yang terinspirasi Pak Mozes dan mereka tidak pernah tahu siapa sebenarnya Pak Mozes,” ujar mantan Paramedis di Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini.

Joko yang memilih keluar sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) dan total sebagai pelukis ini, juga melihat langsung teman-temannya bisa hidup dan menghidupi keluarganya, dengan melukis seperti karya Pak Mazes.

“Saat mengetahui karya-karyanya banyak diteru pelukis lain, Pak Mozes tidak pernah protes. Justru mereka senang, apa yang dilakukan telah mengipirasi orang lain. Meski para pelukis muda itu, tidak pernah bertemu denganyanya,” ujar pelukis asal Nganjuk dan lama tinggal di Banyuwangi.

Joko merasakan, ternyata Pak Mozes mempunyai cara tersendiri dalam memperhatikan. Komunikasi yang intens, kadang marahpun terhadap anak muda tidak menjadi masalah. Joko mengaku pernah dibelikan cat aklirik cukup banyak, padahal ia menggunakan cat minyak.

“Setelah dari Jakarta, Pak Mozes tiba-tiba datang ke tempat tinggal saya, waktu itu di belakang RSUD Blambangan. Pak Mozes mengamati detail lukisan saya, kemudian menemukan ada warga tertentu yang kehadirannya tidak saya sadari. Kemudian Pak Mozes menekankan kepada saya, agar itu dipertahankan. Selain itu, sebagai pelukis harus punya jati diri. Jangan mentang-mentang dekat Pak Mozes, kemudian lukisannya sama,” ujar Joko mengenang wejangan Pak Mozes.

Bagi Joko yang paling dikenang dari Pak Mozes adalah, cara penyederhanaan obyek dan tehnik penumpukan warna media cat minyaknya dengan pisau paletnya. Teknik ini  mampu merubah sederhana, jadi begitu berkesan kekuatan dalam artistik. Saya begitu dekat dengan langkah langkahnya, meskipun harus berpikir keras untuk mencari kepribadian diri sendiri,” pungkas Joko.

Sementara itu, Sugik Laros, pelukis Banyuwangi yang tinggal di Ubud Bali, juga mempunyai kesan tersendiri terhadap sosok Mozes Misdy. Sugik mengaku, jika kedekatanya Mozes Misdy dengan pelukis-pelukis muda. Sering tidak berjarak, meskipun tetap dianggap sebagai Guru, orang tua dan sahabat yang nyata.

“Pak Mozes merupakan Inspirator, sekaligus mentor bagi banyak pelukis muda. Pelukis yang gayanya seperti Pak Mozes, banyak yang menyebut gaya mozesan. Pengaruh itu cukup kuat, meskipun Pak Mozes menekankan pelukis harus punya jati diri, namun tidak mudah melepaskan bayang-bayang Pak Mozes bagi mereka yang sudah terlalu senang,” ungkap Sugik. (sen)