BPBD se-Jatim kumpul di Banyuwangi dalam acara Sarasehan Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana. (Foto: Fattahur)
KabarBanyuwangi.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) gelar sarasehan di Banyuwangi. Kegiatan ini untuk memastikan kesiapsiagaan peralatan, Sumber Daya Manusia (SDM), hingga logistik dalam penanggulangan bencana.
Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten/kota se-Jawa Timur. Mereka memamerkan skill hingga peralatan kebencanaan.
"Seluruh kalaksa se-Jatim hadir dalam acara Sarasehan
Gelar Peralatan dan Logistik ini," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto,
Minggu (14/7/2024).
Suharyanto mengatakan, kegiatan ini hasil kerja sama antara
BNPB, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi,
dalam rangka peningkatan skill dan kesiapsiagaan kelengkapan peralatan
penanggulangan bencana di Jawa Timur.
Dalam kegiatan ini pula, BNPB menyerap aspirasi dari
seluruh Kalaksa BPBD se-Jatim, termasuk memberikan bantuan peralatan dan
anggaran operasional. Dengan harapan para personel siap siaga mengantisipasi
segala bentuk potensi kebencanaan di wilayahnya.
"Potensi kebencanaan yang patut diwaspadai saat ini
adalah kekeringan. Beberapa daerah di Jatim sudah masuk musim kemarau. Bahkan
ada beberapa wilayah yang sudah 45 hari tidak hujan," kata Suharyanto.
Menurut Suharyanto, semua sepakat bencana itu adalah
kejadian yang berulang-ulang dan tidak tiba-tiba. Di Jatim per hari ini, sudah
ada 1.041 kejadian. Oleh sebab itu, personel melakukan berbagai upaya mitigasi
bencana.
"Peralatan BPBD di-update berdasarkan jenis bencana.
Dan di Jawa Timur ini, rata-rata sudah siap ya, meskipun masih ada beberapa
kekurangan, tapi secara keseluruhan sudah siap," tambahnya.
Sementara itu, Pj. Gubernur Jatim, Adhy menyampaikan bahwa
ketersedian logistik dan peralatan mitigasi bencana di Jatim mencapai 73
persen.
"Sistem manajamen logistik dan peralatan itu sangat menentukan keberhasilan penanganan bencana. Kita berharap dengan adanya sarasehan ini, menjadi momentum dalam menyempurnakan dan mengupgrade peralatan yang ada," ujarnya.
Pemprov Jatim, lanjut Andy, terus berupaya memanfaatkan teknologi sebagai Early Warning System atau sistem peringatan dini. Hal ini dinilai sangat penting, mengingat banyak negara-negara maju yang berhasil dalam mitigasi bencana karena adanya bantuan teknologi.
BNPB dan BPBD se-Jatim komitmen siap siaga
tanggulangi bencana. (Foto: Fattahur)
"Kita terus memantau semua informasi teknologi
kebencanaan. Kemarin kami ke Jepang untuk melihat penggunaan teknologi
vulkanologinya," sambungnya.
Selain itu, peningkatan kualitas SDM dan kerja sama
pentahelix juga sangat penting.
"Dalam penanganan bencana perlu ada kerja sama
pentahelix, melibatkan multi sektor. Kami membuka diri dengan siapapun baik
organisasi, rescuer, ataupun masyarakat," kata dia.
Sementara dari segi sistem manajemen, Adhy menyampaikan
perlu adanya sistem komando yang terpusat sehingga lebih mudah dan efektif
dalam melakukan koordinasi penanggulangan bencana.
"Sistem komando terpusat itu sangat penting. Tahun
depan, Jatim akan meluncurkan BPBD One. Ini akan menjadi ICS atau Incident
Command System. Ada chief Commander, yang mengatur manajemen bencananya,"
pungkasnya. (fat)