
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Banyuwangi dikenal dengan beragam tradisinya. Salah satunya Ritual Puter Kayun yang dilestarikan oleh warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi di setiap 10 Syawal.
Puter kayun adalah ritual menepati janji warga Boyolangu kepada para leluhur yang telah berjasa membuka jalan di kawasan utara Banyuwangi. Mereka melakukan napak tilas dengan menaiki dokar (delman) hias dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol.
Sejumlah dokar telah dihias
dengan megah sebagai simbol ritual adat Puter Kayun. Kusir yang akan membawanya
melakukan napak tilas juga telah siap di sisi dokar, salah satunya adalah Abdul
Mufid (65) yang masih bertahan dengan profesinya.
“Saya sudah menjadi kusir sejak
tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama-sama
warga disini. Karena pada tradisi ini yang terpenting adalah napak tilasnya,”
ujarnya.
Ketua Panitia Puter Kayun
sekaligus tokoh pemuda Boyolangu Risyal Alfani mengatakan, tradisi ini terus
digelar sebagai napak tilas jejak Ki Buyut Jakso, leluhur warga Boyolangu yang
dipercaya sebagai orang pertama kali membangun jalan di kawasan utara
Banyuwangi.
"Konon, saat membuka jalan
di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena bagian utara
ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar,” kisah Risyal.
“Ki Jakso lalu bersemedi dan
tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya,
akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu
Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar)," imbuhnya.
Sejak itu, lanjut Risyal, Ki
Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya harus berkunjung ke Pantai
Watu Dodol untuk melakukan napak tilas apa yang telah dilakukannya.
"Karena saat itu hampir
semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka
mengendarai dokar untuk napak tilasnya,” ungkapnya.
Namun pada tahun ini, kuda yang
biasanya melakukan napak tilas ke Pantai Watudodol hanya berputar di wilayah
kota saja. Mengingat, jalan menuju kawasan Pantai Watudodol macet akibat
antrian kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang.
Salah satu warga bercerita yang
biasanya berbondong-bondong mengiringi kuda naik kendaraan roda 4, terpaksa
beralih ke motor roda 2 untuk menembus macet.
“Banyuwangi berkomitmen untuk
mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk tradisi Puter
Kayun Boyolangu ini,” kata Plt Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Hartono.
“Selain untuk menjaga tradisi dan
ritual yang ada, tradisi ini juga bagian dari atraksi wisata di Banyuwangi,” tambahnya.
Sebelum pelaksanaan Puter Kayun,
warga Boyolangu menggelar sejumlah rangkaian acara yang dikemas dalam Boyolangu
Tradistional Culture.
Pada tanggal 7 Syawal warga menggelar Lebaran Kopat dengan acara selamatan yang diakhiri makan kopat bersama. Selanjutnya di 9 Syawal digelar Tradisi Kebo-keboan. (*)