
(Foto: humas/kab/bwi)
KabarBanyuwangi.co.id – Digitalisasi pemerintahan melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) kian menjadi tulang punggung peningkatan kualitas layanan publik di daerah. Namun, akselerasi transformasi digital tersebut tidak bisa berdiri sendiri tanpa diimbangi penguatan keamanan siber.
Hal inilah menjadi fokus dalam Rakor Penguatan Keamanan Siber yang digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI di Banyuwangi, Rabu (6/5/2026).
Rakor diikuti Dinas Kominfo serta
perwakilan daerah se-Jawa Timur dan Bali. Banyuwangi dipilih karena indeks
SPBE-nya terbaik seluruh pemerintahan daerah di Indonesia.
Asisten Deputi Pencegahan dan
Peningkatan Kapasitas Keamanan Siber Kemenko Polkam RI, Marsma TNI Budi Eko
Pratomo mengatakan, transformasi digital melalui implementasi SPBE telah
menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong peningkatan kualiatas layanan
publik dan tata kelola pemerintahan.
Namun percepatan digitalisasi
tersebut belum seluruhnya diimbangi dengan penguatan keamanan siber sehingga
menimbulkan potensi risiko terhadap keandalan layanan, perlindungan data serta
stabilitas sistem pemerintahan di sisi lain tingkat pengimplementasian.
“Rakor ini menjadi forum
strategis untuk menyamakan pemahaman memperkuat koordinasi lintas kementerian
dan lembaga serta pemerintah daerah sekaligus meneruskan langkah langkah
konkret dalam mengimplementasikan SPBE yang aman andal dan berkelanjutan,” ujar
Marsma Budi.
Ia melanjutkan pemilihan
Banyuwangi sebagai lokasi kegiatan memiliki nilai strategis, karena Banyuwangi
telah memilki kinerja yang sangat baik dalam implementasi SPBE. Keberhasilan
ini menunjukkan adanya konsistensi daerah dalam membangun kebijakan tata
kelola manajemen serta layanan SPBE.
“Rakor ini menunjukkan Banyuwangi
sebagai contoh praktik terbaik penerapan SPBE. Ditambah lagi, Banyuwangi juga
menjadi pilot project digitalisasi bansos secara nasional,” ungkapnya.
“Ini mencerminkan keberhasilan
daerah dalam mengintegrasikan layanan publik berbasis digital secara inovatif
dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.
Asisten Administrasi Umum
Sekretariat Daerah sekaligus Plt. Kepala Dinas Kominfo dan Persandian
Banyuwangi Budi Santoso menyampaikan, kesuksesan implementasi SPBE di
Banyuwangi berawal dari komitmen kepala daerah dalam memberikan pelayanan
publik terbaik bagi masyarakat melalui digitalisasi.
“Dengan adanya komitmen kepala
daerah digitalisasi menjadi bagian dari infrastruktur utama yang dibangun. Saat
ini 217 desa se Banyuwangi telah teraliri fiber optik, implementasi SPBE juga
didukung oleh seluruh OPD hingga pemerintahan desa,” papar Budi.
Selain itu dalam mengembangkan
SPBE, Banyuwangi berinvestasi dalam membangun layanan pusat data yang di Dinas
Kominfo dan dibangun sesuai kriteria best practise dan standar SNI.
Banyuwangi juga memastikan
pengelolaan digitalisasi dan SPBE dilakukan oleh SDM dengan kompetensi memadai.
Dengan peningkatan kapasitas SDM TIK secara kontinyu dan Pembentukan Agen
Digital di unit layanan (desa/kecamatan/OPD) untuk pendampingan masyarakat.
“Evaluasi dan monitoring terhadap
progress penerapan SPBE juga dilakukan secara berkala setiap minggu oleh Bupati
yang diikuti oleh semua OPD,” ujar Budi.
Terkait kemanan siber, Banyuwangi saat ini telah memiliki Computer Security Incident Response Team (CISRT) yang ditetapkan lewat Peraturan Bupati sebagai tim respons insiden kemanan siber yang dibentuk untuk melindungi akses informasi, layanan publik digital dan infrastruktur TIK. (*)