oleh

Semangat Produksi Wayang Anyaman Bambu, Untuk Memenuhi Cerita Babad Lokal Banyuwangi

KabarBanyuwangi.co.id – Setelah mendapatkan kesempatan pentas Ruwatan atau Selamatan Desa di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, kini Dalang Wayang Bambu berbahasa Using, Ki Ronggo Sukoco terus bersemangat memproduksi tokoh pewayangan sesuai cerita yang dipentaskan. Bersama rekannya, Syukron, Ki Ronggo berkolaborasi membuat wayang dengan bahan anyaman bambu.

“Kebetulan Desa Gintangan ini merupakan sentra perajin anyaman bambu, makanya saya dan Pak Syukron memilih bahan wayang dari anyaman bambu. Bentuk anyaman diserahkan kepada orang yang memang sudah ahlinya, kemudian karakter tokoh tersebut saya dan Pak Syukron yang membentuk,” ujar Ki Ronggo Sukoco alias Buang, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Rabu (9/9/2020).

Buang yang pernah belajar ilmu pedalangan dan pakeliran kepada Dalang  kondang, Ki Manteb Soedarno, serta Dalang lokal Banyuwangi, Ki Ketang Sudarto asal Desa Blangkon Kecamatan Srono ini, mengaku awalnya tidak mengira bakal mengembangkan Wayang dari anyaman bambu.

“Ketika mendapat tawaran dan kesempatan dari Kepala Desa Gintangan, Bapak Hardiyono, saya menjadi tertantang. Apalagi pada saat pentas ruwatan desa, responnya sangat bagus,” kata Ki Ronggo yang awalnya juga seorang pemain Janger Gintangan.

Baca Juga: Acara Bersih Desa Menampilkan Wayang Anyaman Bambu Berbahasa Using

Baca Juga: Simulasi AKB, Pelaku Seni Tradisi Kembali Pentas di Banyuwangi

Baca Juga: Pelawak Tradisional Bingung Cari Format Penampilan di Era New Normal

Produksi wayang anyaman bambu dilakukan secara bertahap, akibat keterbatasan dana. Namun bila ada tanggapan, maka pembuatan tokoh-tokoh wayang tersebut didahulukan sesuai cerita yang diinginkan.

“Sekarang saya dan Pak Syukron fokus memvisualisasikan tokoh-tokoh dalam Legenda Sritanjung. Sambil jalan juga membuat tokoh-tokoh dalam Babab Tawangalun, karena cerita-cerita ini akan menjadi fokus dalam pementasan wayang berbahasa Using”, tambah Ki Ronggo yang mengaku sangat mengagumi Ki Manteb Soedarsono.

Bentuk Gunungan dan salah satu tokoh Wayang Using Sidopokso yang digali dari legenda Sritanjung dari anyaman bambu. (Foto: istimewa)
Bentuk Gunungan dan salah satu tokoh Wayang Using Sidopokso yang digali dari legenda Sritanjung dari anyaman bambu. (Foto: istimewa)

Hingga saat ini, jumlah tokoh wayang bambu masih sekitar 50 karakter. Namun sudah bisa mementaskan dalam satu cerita, seperti cerita Ruwatan. Keterlibatan perajin anyaman bambu di Gintangan, sangat berarti dalam pembuatan wayang yang nantinya akan menjadi ciri khas Banyuwangi ini.

“Para perajian yang menganyam bisa, atau dikenal dengan istilah “moto pulu”. Kemudian hasilnya kita bentuk sesuai tokoh-tokoh yang kota inginkan, meskipun tidak sama persis, tetapi karakternya bisa mendekati dengan tokoh-tokoh yang digambarkan,” jelas Buang yang mengaku mengembangkan wayang bambu dari kocek pribadi.

Merintis Wayang Berbahasa Using, bagi Ki Ronggo Sukono sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu. Sebelumnya masih menggunakan wayang kulit, dengan bahasa campuran Jawa dan Using. Terutama pada saat jejer yang tidak formal, maka akan banyak menggunakan dialog Bahasa Using.

“Namun sejak tahun 2019 lalu, setelah ketemu Pak Syukron saya langsung ajak kolaborasi mewujudkan Wayang Bambu. Insyaallah ini bisa jalan, karena ada dukungan dan semangat dari luar yang sebelumnya tidak pernah saya dapatkan. Inilah yang membuat kami berdua tambah bersemangat dalam memproduksi tokoh-tokoh Wayang Bambu,” pungkas Ki Ronggo Sukoco. (sen)

_blank

Kabar Terkait