oleh

Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Cari Solusi Agar Kesenian Tradisional Bisa Kembali Tampil

KabarBanyuwangi.co.id – Sedikitnya 60 Seniman pertunjukan kesenian tradisional Banyuwangi, seperti Jaranan, Barong dan Janger berkumpul di Pendopo Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Jumat (7/8/2020). Mereka bertemu dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar), MY. Bramuda dan Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Dr. Taufiq Hidayat.

Para seniman tradisional ini, tetap mendesak agar mereka bisa tampil dan kembali menerima job pementasan selama masa pandemi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 yang ditetapkan pemerintah. Jika tidak segera dicarikan solusi, bukan saja kesenian tradisional yang mati, tetapi para seniman yang menggantungkan hidupnya dari kesenian ini juga akan mengalami masalah tersendiri.

“Selama ini kegiatan kami praktis terhenti, sebab semuanya juga dihentikan. Kami memahami, masa new normal sekarang, merupakan kesempatan bagi kami kembali bangun dan membenahi ekonomi anggota kami. Kami sudah berusaha patuh, saat mengurus perijinan ke polsek. Kami disarankan agar mengurus ke Kecamatan, tetapi tidak diberi ijin. Maka kami ke sini ini minta jalan keluar,” kata Bogi mewakili para seniman.

Baca Juga: Ratusan Pengusaha Sound System, Terop dan Pelaku Seni Demo Gugus Tugas Covid-19 Banyuwangi

Baca Juga: Pertama Kali, Jaranan Buto Banyuwangi Tampil Secara Virtual

Baca Juga: Tidak Pernah Tampil, Seniman Janger Jadi Tukang Sablon Kaos

Menanggapi desakan para seniman, Ketua DKB, dr.H. Taufiq Hidayat didampingi pengurus DKB, H. Bambang Lukito dan Punjul Ismuwardoyo menyampaikan, sewajarnya DKB ikut prihatin dan berkewajiban mencarikan solusi sesegera mungkin. Standar Operasional Prosedur (SOP) kesehatan sudah dibuat, tetapi untuk pelaku seni.

“Jika ada job, semua seniman wajib megenakan masker mulai dari rumah. Semua diharuskan membawa sanitizer, membawa make up sendiri. Tidak boleh pinjam alat make up orang lain, apalagi satu lipstik dipakai rame-rame. Itu sudah ada SOP-nya, tetapi yang repot itu membuat peraturan untuk penonton. Kalau pertunjukannya dilakukan di dalam gedung, penonton bisa dibatasi dan bisa diatur sosial distancingnya,” ujar Kang Upik, begitu panggilan akrab ketua DKB ini.

Para seniman tradisional Banyuwangi, dengan seksama mendengar paparan Ketua DKB dan Kadisbudpar, terkait solusi pentas di era new normal. (Foto: istimewa)
Para seniman tradisional Banyuwangi, dengan seksama mendengar paparan Ketua DKB dan Kadisbudpar, terkait solusi pentas di era new normal. (Foto: istimewa)

Sementara itu,  Kadisbudpar Banyuwangi MY. Bramuda, didampingi Sekretaris Disbudpar, Choliqul Rido menyampaikan, pihaknya telah melakukan simulasi seni pertunjukan di destinasi atau tempat-tempat wisata. Harapannya, pengunjung sambil lalu menikmati pertunjukan. Mereka datang untuk menikmati keindahan alam wisata, tetapi tidak 100% berhasil. Penonton justru malah berjubel nonton pertunjukannya.

“Sebenarnya orang punya gawe itu harus mendapatakan ijin keramaian dulu. Jika sampean ditanggap orang punya gawe, ijin keramaiannya tentu dicantumkan hiburannya apa? Lha kalau sampean punya ijin gelar pertunjukan, mau main di mana? Main sendiri ya. Kan nggak dapat duit. Tambah rugi. Niatnya tanggapan jalan sehingga ada pemasukan, tapi karena main sendiri ya nggak dapat duit. Jadi intinya orang yang punya hajatan itu dapat ijin mengadakan kegiatannya apa enggak?,” papar Bramuda. (sen)

_blank

Kabar Terkait