oleh

Pelukis S Yadi K: “Gandrung Poniti itu Penguasa Panggung Pertunjukan dan Kehidupan”

KabarBanyuwangi.co.id – Maestro pelukis Banyuwangi, S Yadi K mempunyai penilaian yang sangat mendalam tentang sosok almarhumah Gandrung Poniti. Kendati baru sekali bertemu pada pertengahan tahun 2019 lalu di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Singojuruh, namun kesan yang terpancar dari raut wajah dan gerak tubuhnya justru menunjukkan sebagai seniwati yang asli bersaja, dan ikhlas dalam menjalani hidupnya.

“Kalau tahu nama Gandrung Poniti, saya sejak kecil sudah tahu dari kaset yang sering diputar di masyarakat. Tapi ketemu langsung baru sekali, karena Mak Poniti tinggal di desa. Sementara saya sering bertemu dan bergaul dengan Gandrung yang tidak jauh dari kota, seperti Gandrung Temu Kemiren. Saya kaget, ternyata Gandrung senior yang saya kenal itu adalah murid Gandrung Poniti,” kata S Yadi K yang juga pemilik Gallery Kawitan kepada kabarbanyuwangi.co.id, Rabu (10/6/2020).

Yadi menambahkan, saat bertemu langsung di Singojuruh, dirinya diajak Komunitas ARTEVAC bersama budayawan Hasnan Singodimayan dan Koregrafer asal Singojuruh Sahuni. Setelah bertegur sapa saling mengenalkan, Yadi mengaku tidak henti-hentinya memandang cara ngomong dan nembang (Nyanyi) yang diiringi anak-anak dari Tabuhan Soren.

“Ternyata umur setua itu, masih memelihara kulitas suara yang masih prima seperti masih muda. Ini tidak gampang dan hanya bisa dijalani seseorang yang sudah mentasbih dirinya sebagai seniman, tidak dipengaruhi kondisi sosial ekonomi yang melatarbelangi hidupnya. Saya saat itu tak henti-hentinya berdecak kagum, karena melihat luwesnya almarhumah dalam beramah tamah dengan pejabat dan orang yang baru dikenal, serta dalam penampilan nembang dan tari yang ditekuni sejak usia belia,” tambah Yadi.

Baca Juga: Innalillahi Wainnalillahi Rojiun, Maestro Gandrung Berpulang ke Rahmatullah

S Yadi K saat melukis Model Gandrung di Gallery Kawitan Banyuwangi (Foto doc. Istimewa)

Pemilik Omah Seni S Yadi K ini melanjutkan, jika perjalanan hidup Gandrung Poniti dijalaninya dengan tulus dan iklas, sebagaimana dijalani dalam berkesenian. Berdasarkan informasi dari sejumlah teman, untuk memenuhi kehidupan setiap hariunya, almarhumah Gandrung Poniti menjadi buruh tanam padi dan mantun (membersihkan rumput liar di tengah tanaman padi–Red). Namun saat diatas panggung kesenian, sosok buruh tani tidak tampak sama sekali.

“Saya menilai, Gandrung Poniti itu penguasa panggung kehidupan sekaligus panggung kesenian. Dua karakter itu berjalan beriring, tanpa saling mempengaruhi. Mak Poniti kendati tinggal di rumah sempit, tidak pernah mengeluh, dan terbuka menerima tamu yang menemuinya tanpa canggung,” ungkap pelukis yang dituakan oleh perupa-perupa muda Banyuwangi.

Baca Juga: Semangat Seniman Muda Antar Maestro Gandrung Poniti  Hingga ke Liang Lahat

Bahkan, saat menerima kiriman video lewat Whatsapp tentang Doa Gandrung, Yadi tambah dalam penghargaan terhadap potensi suara Gandrung dan cara melatihnya. Sejumlah gandrung yang mempunyai suara berkarakter, ternyata hasil tempaan Mak Poniti saat awal belajar Gandrung.

“Saya mendengar suara Gandrung Supinah dalam video itu, sampai gemetar. Betapa sempuranya kemampuan olah suara, sehingga mampu menggetarkan yang mendengarkannya. Ini juga menambah kekaguman saya terhadap almarhum Gandrung Poniti, karena ternyata Supinah itu anak didik Gandrung Poniti. Pada kesempatan diwawancarai sebuah TV Swasta di Banyuwangi, Poniti mengaku memberikan pola pengajaran khusus terhadap Supinah, termasuk membuatkan ramuan yang harus diminum yang dia sendiri tidak bisa meminum ramuan itu. Hasilnya seperti sekarang, Supinah memiliki kualitas vokal dengan cengkok khas Banyuwangi,” pungkas Yadi. (sen)

_blank