oleh

Disbudpar Tambah Kuota Penonton Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”

KabarBanyuwangi.co.id – Dari rencana awal sebanyak 200 tempat duduk yang disediakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, untuk menonton Simulasi Seni Pertunjukan Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”, akhirnya harus ditambah  tribun 4 unit lagi. Tiket gratis menonton disebar liwat online, hanya waktu 3 hari sebanyak 200 kouta yang disiapkan sudah ludes terbooking.

“Akibat banyak permintaan, kita masih mengedapankan social distancing, jalan satu-satu adalah menambah kuota total menjadi 400 penonton. Selain penonton umum, juga ada mahasiswa, tamu VIP. Penonotn umum tetap diakses liwat online, sekali lagi hanya yang membawa tiket yang boleh masuk. Ketentuan Protokol Kesehatan akan diberlakukan secara ketat,” kata Kadisbudpar Banyuwangi, MY Bramudha kepada kabarbanyuwangi.co.id, Jumat (14/8/2020).

Cerita Sritanjung Hidup Kembali ini mulai ramai, setelah Babad bertuliskan Arab Pegon yang disadur orang Lugonto, Rogojampi mulia tersebar luas. Dalam Babad tersebut, kisah Sritanjung tidak berhenti setelah meninggal dan menyebarkan bau harum. Namun dilanjutkan Sritanjung hidup kembali dan Suaminya memnbalas atas fitnah Raja Sudomolo.

Baca Juga: Komposisi Musik Banyuwangi, “Damar Suluh” Masuk 10 Besar Nasional

Baca Juga: Tiga Sanggar Tari Bersatu Garap Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”

Baca Juga: Disbudpar Gelar Simulasi Seni Pertujukan Sendratari Sritanjung Hidup Kembali

Dalam Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali, diangkat dari Buku dengan judul  yang sama tulisan Aekanu Haryono. Kemudian disarikan oleh Adullah Fauzi, Staf Disbudpar Banyuwangi. Pelaksana teknis Sendratari ini adalah gabungan tiga Sanggar Tari, masing-masing Sanggar Tari Gandrung Arum, Cluring. Sanggar Tari Sayuwiwit, Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi dan Sanggar Laron Wangi Kemiren Kecamatan Glagah.

“ini termasuk Sendratari semi kolosal, karena penari dan pemusik dari 3 sanggar tersebut telibat mendukung acara yang dilaksanakan dalam prtokol Covid-19 yang ketat. Ada 80 kru, mulai penari, sinden dan panjak. Selama latihan Alhadulillah lancar. Meski harus berubah dari Banterang-Surati ke Sritanjung,” kata Julaidik yang menjadi Sutradara dalam Sendratari tersebut.

Sekdin Disbudpar, Choliqul Ridho saat ikut latihan di Aliyan, Rogojampi. (Foto: istimewa)
Sekdin Disbudpar, Choliqul Ridho saat ikut latihan di Aliyan, Rogojampi. (Foto: istimewa)

Ternyata dalam Sendratari yang akan berlangsung Sabtu (15/8/2020) malam bertempat di Gesibu itu, juga melibatkan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Choliqul Ridho. Peran Sekdin dalam pentas tersebut, mewakili generasi 2020 yang bertapa hingga masuk ke demensi masa lalu.

“Pak Sekdin dalam peran di atas panggung sedang bertapa mencari penangkap Corona. Namun akibat kebanyakan membakar kemenyan, hingga akhirnya masuk ke demensi masa lalu dan menjadi tamu Kerajaan Sindurejo.” ujar Abdullah Fauzi, staf Disbudpar yang mendapingi Choliqul Ridho saat Gladi Kotor di Desa Aliyan, Rogojampi. (sen)

_blank

Kabar Terkait