oleh

DKB Diminta Luruskan Kesenian Tradisional Banyuwangi Sesuai Pakem

KabarBanyuwangi.co.id – Koreografer senior Banyuwangi, Sumitro Hadi, sangat berharap kepada Dewan Kesenian Blambangan (DKB), agar segera meluruskan Kesenian Tradisional Banyuwangi yang melenceng dari pakem, atau ketentuan yang ada. Pernyataan pemilik Sanggar Tari Jingga Putih, Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi itu, disampaikan saat menerima kunjungan Pengurus DKB di kediamannya, Sabtu (3/10/2020) malam.

Pengurus DKB yang datang ke kediaman Sumitro Hadi adalah, Hasan Basri (Ketua), Bambang Lukito (Wakil Ketua), Juwono (Komisi Pertunjukan), Sarfin (Komisi Advokasi dan Rekomendasi) serta Moch. Suaiful (Komisi Bahasa). Para pengurus ini memang bernadar, jika Hasan Basri terpilih sebagai Ketua DKB, akan menggelar tasyakuran sederhana “Pecel Pitik” di rumah maestro Tari Banyuwangi. Selain itu, sekaligus meminta Sumitro Hadi, agar berkenan tetap menjadi Penasehat DKB.

Melihat kedatangan pengurus DKB, pencipta tari tradisional Banyuwangu yang sudah beberapa diantaranya dipatenkan itu, kembali menegaskan, bahwa DKB Banyuwangi harus mandiri dalam sikap. Tidak boleh DKB dikendalikan oleh salah satu pengurus, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. DKB harus berani tampil atas namanya sendiri, setiap ada masalah berkait dengan kesenian dan seniman Banyuwangi.

Baca Juga: Hasan Basri Ditetapkan Sebagai Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB)

Nasihat yang paling penting lainnya, agar DKB memperhatikan perkembangan kesenian tradisional Banyuwangi. Banyak diantara kesenian tradisional yang masih eksis, justru tidak sesuai pakem yang ada. Malah dilihat Pak Mitro, melenceng jauh dari tujuan memberi “Tontonan dan Tuntunan” (Hiburan yang mendidik) sebagai hakekat sebuah kesenian.

Pak Mitro mencontohkan, Kesenian Janger Berdendang, meskipun berkembang pesat namun jauh dari kesenian Janger sebenarnya. Padahal sebelumnya, orang menonton Janger itu ingin mencermati lakon. Namun sekarang yang terjadi, semalam suntuk hanya diisi tari-tarian dan tidak mementingkan cerita lagi.

Cerita atau lakon hanya pelengkap, bukan yang utama lagi dalam memberi tontonan dan tuntunan kepada masyarakat. Bahkan lebih mementingkan permintaan lagu-lagu dari tuan rumah, daripada menyelesaikan lakon yang sudah direncanakan.

Baca Juga: Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Cari Solusi Agar Kesenian Tradisional Bisa Kembali Tampil

Begitu juga Kesenian Gandrung, menurut Pak Mitro juga banyak yang tidak menjalankan pakem yang ada. Ini kalau dibiarkan, dikira oleh orang luar atau generasi muda, Kesenian Gandrung itu seperti yang dilihatnya. Padahal itu sudah jauh meyimpang dari ketentuan yang ada, seperti urutan pementasan.

Banyak dalam kesenian Gandrung yang tidak sesuai, salah satunya adalah tidak adanya prosesi Seblang Subuh dalam akhir pertunjukan Gandrung. Padahal ini penting, tetapi banyak Gandrung yang tidak mampu memainkan.

Menanggapi pesan dari Pak Mitro, Hasan Basri dengan senang hati akan melaksanakan. Apalagi proses meluruskan kesenian daerah yang melenceng dari pakem itu, sebelumnya sudah dilakukan dr. Taufiq Hidayat, Ketua DKB sebelumnya.

Baca Juga: Seniman Berharap Ketua DKB Baru Bisa Mengayomi Semua Elemen Kesenian di Banyuwangi

Saat itu, DKB bekerjasama dengan kepolisian yang mempunyai wewenang untuk penindakan. Misalnya adanya keributan, saat kesenian tradisonal pentas. Ini bisa menjadi wewenang polisi, seniman harus ikut terlibat apa yang dilakukan tidak menjadi penyebab terjadinya kegaduhan.

Masalah kemandirian DKB dalam pendanaan, menurut Hasan Basari sangat menarik. Pak Mitro mencontohkan Dewan Kesenian Bali, bisa mendapatkan royalti dari karya-karyaq seniman di sana yang dikomersialisasikan. Tentu ini menjadi contoh baik, pertama juga meneladani Pak Mitro, agar seniman Banyuwangi mulai mematenkan karyanya. Sehingga pihak-pihak lain yang akan mengkomersialkan, harus membayar royalti dulu.

(Penulis: Juwono, Guru SDN 2 Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi)

_blank

Kabar Terkait