oleh

Hongkong Panas, Berlibur dan Rekreasi Memilih Malam Hari

KabarBanyuwangi.co.id – Hari minggu adalah saat yang ditunggu buruh migran, untuk mengistirahatkan lelahnya raga dan pikiran selama enam hari berkutat dengan pekerjaan. Masih dalam situasi level tiga virus Corona, korban positif terinfeksi kurang lebih empat ribu enam ratus lebih.

Buruh Migran Indonesia (BMI) yang beberapa hari lalu terjangkit virus corona, kini juga tengah menjalani pengobatan di rumah sakit dan dinyatakan baik-baik saja. Meskipun diantara warga pribumi banyak terjangkit dan pemerintah telah menutup Hongkong sementara waktu, namun demikian tidak mengurangi kegiatan BMI di hari libur.

Taman Victoria, Taman Quarry Bay dan mungkin taman lainnya, terlihat lebih banyak buruh migran tengah berlibur. Mereka terlihat sekedar duduk-duduk, makan dan melakukan aktivitas lainnya, meskipun dalam pengawasan para satpam atau polisi imigrasi yang berpakaian preman.

Kami duduk masih dibatasi dua orang, dengan jarak satu setengah meter. Sejak tadi saya melihat banyak orang mulai lalu lalang, membuat saya ingin keluar dari kost-kostan  sekedar ingin menghirup udara segar.

Baca Juga: Ini Kisah Hidup BMI Asal Banyuwangi di Hongkong Saat Lockdown Kedua

Baca Juga: BMI: Bertahan Hidup Membuat Tempe Gembos, Saat Lockdown Di Hongkong

Baca juga: Liburan Di Tengah Lockdown Hongkong Kedua

Siang saya harus bolak-balik ke imigrasi, untuk mengurus visa kerja baru, karena saya diinterminit majikan lama. Tujuan saya masih tetap sama, Taman Victoria di daerah Causewaybay. Menumpang kendaraan Teng-Teng dari kota Saiwanho, dengan tarip dua dolar koma enam puluh sen, saya menemui kawan-kawan Larosa Arum.

Kami bersama-sama latihan seperti biasa, saat virus Corona belum merebak. Sesekali saya dengar tawa renyah para buruh migran, juga para pedagang kaki lima yang tengah menjajakan dagangannya. Saya dan kawan-kawan Larosa Arum masih serius latihan tari Gandrung, sekaligus Gebyar Jaranan Buto.

Begitu kangennya dengan kebersamaan, kami waktu itu bercanda dan makan bersama, meski hanya sekedar nasi campur, nasi dengan sayur lodeh nangka muda dan kacang panjang plus dendeng ikan belut. Masakan tersebut, sengaja dimasak oleh mbak Kiran ketua Paguyuban yang baru.

Kondisi Teriminal yang terlihat sepi. (Foto: istimewa)
Kondisi Teriminal yang terlihat sepi. (Foto: istimewa)

Mbak Kiran dan mbak Cahya, sebenarnya bukan orang baru. Kami kembali mempercayakan tampuk ketua dan wakil ketua, kepada beliau berdua. Keduanya kami anggap lebih mampu membawa paguyuban dengan jiwa pengayomnya. Namun, bukan berarti kami merendahkan atau menganggap teman-teman lain tidak mampu.

Terik matahari sejak pagi, sudah terasa menyengat sekitar tiga puluh tiga derajat. Udara  terasa kering, tanpa sedikitpun angin berhembus di dedaunan. Meski demikian, tidak mengurangi semangat kami berlatih. Ketika hari menjelang sore, saya memutuskan pulang ke rumah kost.

Di tengah perjalan, saya bertemu teman lain yang tinggal satu kost. Kami berempat jalan-jalan ke laut di bawah rumah, melewati tengah taman Quarry Bay hingga tak terasa semakin jauh masih terlihat orang-orang yang tengah berolah raga. Di taman Quarry Bay, saya masih melihat buruh migran bercengkerama bahagia.

Semakin ke laut, semakin banyak orang yang tengah memancing, bersepeda, bermain skating board dan lari-lari kecil. Di Terminal bus masih belum banyak armada yang beroperasi, hanya satu dua terlihat penuh penumpang. Itupun dengan jarak sangat lama, sekitar satu jam. Tidak seperti dulu, sebelum wabah merebak yang hanya berjarak setengah jam sekali.

Sesekali terlihat pengendara motor, dengan membawa tas di punggung bertuliskan foodpanda. Para pengendara motor itu bekerja sebagai pengantar makanan online, karena ditutupnya  restoran-restoran atau dibatasi hanya untuk satu, dua orang saja yang bisa duduk di tempat, selebihnya hanya boleh dibawa pulang.

Berlibur sambil memancing di malam hari, juga menjadi trend di Hongkong. (Foto: istimewa)
Berlibur sambil memancing di malam hari, juga menjadi trend di Hongkong. (Foto: istimewa)

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam waktu setempat, di sana sini masih terlihat orang yang tengah memancing ikan. Semakin malam, semakin banyak pula lelaki dan perempuan duduk di tepi laut. Mereka tidak mungkin melakukan aktivitas di siang hari, ketika cuaca sangat panas.

Bulan Agustus  terasa sangat panas, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Masih berkutat dengan masker, face shield, sarung tangan dan  segala atributnya terasa semakin membuat kami sesak. Majikan juga semakin banyak menuntut, karena mereka lebih banyak di rumah.

Hanya doa yang mampu menguatkan kami para buruh migran, tetap sering cuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, tidak menggunakan peralatan makan secara bergantian, menghindari kerumunan, tidak panik, selalu menjaga karena menurut saya tidak akan ada satupun penyakit didunia ini tanpa ada obat penyembuhnya.

(Penulis: Tirto Arum, BMI asal Banyuwangi di Sai Wanho, Hongkong)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank

Kabar Terkait