oleh

Job Manggung Sepi, Seniman Tradisional Banyuwangi Kembali Bertani

KabarBanyuwangi.co.id – Sejumlah seniman tradisional Banyuwangi, kembali menekuni pekerjaan di sawah dan ladang sebagai petani. Sebagai seniman panjak kelompok kesenian trasisional, pekerjaan awal ada yang buruh tani, tukang batu dan pekerja serabutan. Setelah adanya Pandami Covid-19 dan ketentuan Normal Baru, nyaris para seniman ini sehari-hari berkutat di sawah sebagai petani.

“Asli saya dan para seniman panjak yang tergabung dalam Jaranan Campursari  “Larasawangi” Songgon adalah petani, dengan tidak adanya kesempatan tampil sejak 5 bulan lalu, sekarang ya kembali menekuni pekerjaan di sawah. Bagi saya dan teman-teman, kesenian daerah yang ditekuni hanya sebagai hoby,” kata Anton Hidayat, Pimpinan Jaranan Campursari Laras Wangi kepada kabarbanyuwangi.co.id, Rabu (29/7/2020)

Baca Juga: Pertama Kali, Jaranan Buto Banyuwangi Tampil Secara Virtual

Baca Juga: Tidak Pernah Tampil, Seniman Janger Jadi Tukang Sablon Kaos

Baca Juga: Pemain Jaranan Buto Rela Disabet Cemeti Asal Diberi Imbalan Rp 100 Ribu, Ini Alasannya

Kelompok Jaranan Campursari Laraswangi, merupakan kelompok kesenian tradisional terkenal di Banyuwangi. Pada tahun  2018, pernah menjadi Juara Favorit pada Festival Jaranan Buto. Kendati tidak ada aktivitas manggung, namun kegiatan merawat proferty rutin dilakukan.

“Kalau latihan jarang, karena sebagian personil ada yang memutuskan bekerja di Bali, setelah tidak ada kegiatan atau tanggapan. Namun kominikasi antar panjak masih aktif, kebanyakan mereka menanyakan kapan pentas lagi,” ujar Anton.

Krew Jaranan Campursari 'Laras Wangi' dengan Pengharagaan sebagai Penampil Favorit pada Festivak Jaranan Buto 2018. (Foto: istimewa)
Krew Jaranan Campursari ‘Laras Wangi’ dengan Pengharagaan sebagai Penampil Favorit pada Festivak Jaranan Buto 2018. (Foto: istimewa)

Anton yang membawahi 25 personil seniman, mengaku tidak bisa berbuat banyak selain menenangkan anak buahnya agar tetap sabar dalam menerima keadaan ini.

“Saya sudah berusaha mencari tahu, tentang adanya bantuan dari pemerintah untuk seniman yang terdampak Covid-19. Ternyata tidak semudah yang diangankan, rata-rata  gagal mendapatkan bantuan itu,” keluh Anton yang sekarang mengaku tidak pernah pulang dari sawah.

Kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Anton berharap ada solusi agar kelompok kesenian daerah bisa tampil seperti sebelumnya.

“Selama ini yang mendapatkan sosialisasi adalah para pemilik sanggar, sementara Kelompok Kesenian Tradisional seperti kami ini belum ada soslusi. Jika para penari Sanggar sudah banyak yang tampil, baik langsung maupun virtual, Kami-kami ini belum ada kesempatan itu. Sementara mereka yang punya hajat juga tidak berani memaksa, karena polisi rata-rata tidak mengijinkan,” terang Antot Hidayat.

Anton Hidayat, pemilik Kelompok Kesenian Jaranan Campursari 'Laras Wangi' Songgon. (Foto: istimewa)
Anton Hidayat, pemilik Kelompok Kesenian Jaranan Campursari ‘Laras Wangi’ Songgon. (Foto: istimewa)

Anton dan teman-temannya tidak kenberatan, kalau harus mematuhi protokol kesehatan. Misalnya para panjak, diminta menggunakan masker dan Face Shield.

“Kami siap semuanya, asal ada petunjuk tekhnis dari pemerintah. Misalnya ada yang meminta tampil streaming, kami siap asal ada yang memfasilitasi. Semoga dalam waktu yang tidak lama, ada giliran sosialisasi kepada kelompok seniman non sanggar,” pungkas Anton. (sen)

_blank