oleh

Komposisi Musik Banyuwangi, “Damar Suluh” Masuk 10 Besar Nasional

KabarBanyuwangi.co.id – Kurator Fetival Musik Tradisional Indonesia 2020, meloloskan Komposisi “Damar Suluh” karya Adlin Mustika dari Sanggar Tari Gandrung Arum Cluring, masuk nominasi 10 besar tingkat Nasional. Sebelumnya lolos mewakili Jawa Timur, dengan judul “Suluk Tangkub” konposernya masih tetap, Adlin Mustika Alam.

“Alhamdulillah, kita masuk 10 besar nasional. Memang dalam setiap tahapan kurasi, harus menampilkan karya baru. Sebelumnya saat mewakili Jawa Timur, kita setorkan video “Suluk Tangkup”. Setelah mewakili Jawa Timur, kita kirim “Damar Suluh,” kata Suko Prayitno, Pimpinan Sanggar Tari Gandrung Arum, Cluring kepada kabarbanyuwangi.co.id, Jumat (14/8/2020).

Baca Juga: Tiga Sanggar Tari Bersatu Garap Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”

Baca Juga: Kegiatan “Tabuhan Soren” di RTH Singojuruh Berhenti Sejak Sebulan Terakhir

Baca Juga: Kabar Gembira: Banyuwangi Wakili Jawa Timur Dalam Festival Musik Daring Nasional 2020

Ketetapan tersebut tertuang dalam Berita Acara Hasil Kurasi Tahap Kedua, Festival Musik Tradisional Indonesia 2020, Nomor: 0819/F3/KB2020. Kuratornya terdiri dari Sudirman, Sulistiya S. Tirtokusumo, Jabatin Bangun, Gilang Ramadhan, Satria Dharma, Suhendi Afyanto dan Embi C Noer.

“Rencana tanggal 26 dan 27 Agustus 2020, akan kirim karya hasil memperbaharui “Damar Suluk” yang sudah masuk 10 besar nasional. Mohon doanya kepada warga Banyuwangi, agar karya anak-anak kami bisa berhasil juara,” pinta Suko yang saat ini sibuk mempersiapkan Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”.

Tim Sanggar Tari Gandrung Arum, saat mempersiapkan karya yang akan dikirimkan ke panitia lomba. (Foto: istimewa)
Tim Sanggar Tari Gandrung Arum, saat mempersiapkan karya yang akan dikirimkan ke panitia lomba. (Foto: istimewa)

Menurut Komposer “Damar Suluh”, karya yang lolos 10 besar ini konsepnya tidak terlalu jauh dengan “Suluk Tangkup” yang lolos mewakili Provinsi Jawa Timur. Sumber pijakan merupakan karya musik Banyuwangi, dengan nilai-nilai pada seni tradisi Gandrung.

“Gandrung salah satu ikon Banyuwangi , harus dipertahankan serta di lestarikan. Saya dalam mewujudkan karya musik ini, dimaksudkan agar bisa memberikan sentuhan rasa, serta memberikan inovasi dalam merangsang untuk menjadikan sebuah karya yang lebih kreatif,” ujar alumni STKW Surabaya yang asli Pasinan, Singojuruh.

Dalam proses berkesenian tradisi, Adlin mengaku kerap gelisah untuk terus menghadirkan yang baru. Namun gagasan-gagasannya, terkadang sulit diterima di internal sendiri.

“Alahamdulillah, saya selalu berinteraksi dengan dunia luar. Sambil terus menggali dan mengenalkan tradisi musik Banyuwangi, agar pihak luar bisa memahaminyta secara rasional,” pungkas Adlin yang juga motor Kegiatan “Tabuhan Soren” di RTH Singojuruh. (sen)

_blank

Kabar Terkait