oleh

Koreografer Muda Banyuwangi Tertantang Berkarya di Era Normal Baru

KabarBanyuwangi.co.id – Meski ketentuan Protokol Kesehatan Covid-19 banyak yang menganggap merepotakan penampilan seniman saat menghibur, namun tidak demikian bagi penata tari Agus Dwi Cahyono. Pemilik Sanggar Tari Kuwung Wetan, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono ini mengaku tertantang dan ingin membuktikan bisa berkreasi dalam situasi sesulit apapun.

“Saya ingin membuktikan, bahwa ketentuan sosial distancing di panggung dan jumlah penari tidak akan menghambat kreativitas. Justrua sebaliknya, saya ingin membuktikan dengan karya baru. Tidak melanggar protokol kesehatan, tetapi tetap bisa tampil prima dengan kaidah kesenian yang menghibur,” kata Agus Dwi Cahyono kepada kabarbanyuwangi.co.id, Senin (27/7/2020).

Baca Juga: Setelah Vakum Tabuhan Soren Dimulai Lagi, Penonton Sulit Dihalau

Baca Juga: Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

Baca Juga: Setelah Vakum Tabuhan Soren Dimulai Lagi, Penonton Sulit Dihalau

Dwi yang setiap tahun terlibat dalam event Gandrung Sewu, dan di tahun 2018 pernah dipercaya sebagai penanggung jawab, hingga saat ini masih rutin latihan. Ada maupun tidak ada ‘tanggapan’ atau job manggung, latihan sebagai proses berkesenian.

“Saya melihat anak-anak muda yang tergabung dalam Sanggar Tari Umah Seni Kuwung Wetan sangat potensial, makanya situasi sekarang saya gunakan untuk menggenjot potensi mereka dalam seni olah gerak. Penari dan panjak kami anak-anak muda, mereka bersemangat dan mudah menerima arahan,” kata Koreografer muda yang energik ini.

Latihan Menari dengan mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak dan bermasker. (Foto: istimewa)
Latihan Menari dengan mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak dan bermasker. (Foto: istimewa)

Dwi yang pernah mewakili Jawa Timur dalam Festival Karya Tari Tingkat Nasional tahun 2018 ini, mengaku tidak begitu terpengaruh proses latihannya kendati harus mengikuti protokol kesehatan.

“Saat pentas, kami tetap tunduk dengan peraturan yang berlaku. Semua panjak jaga jarak dan menggunakan masker serta face shiled, begitu juga menari. Namun saat latihan, kami hanya mengenakan masker agar lebih leluasa,” tambah pencipta Tari “Naskala Seblang” yang dinobatkan sebagai karya Unggulan Tingkat Nasional ini.

Meski tertantang untuk berkarya dengan fotmat Normal Baru, namun untuk melangkah ke sana Dwi masih berpikir panjang. Mengingat biaya produksi dalam karya baru tidak sedikit, sementara job pentas karya baru meski juara nasional juga sangat minim.

“Seperti karya saya ‘Niskala Seblang’, sebagai Juara I tingkat Provinsi Jawa Timur dan Juara Unggulan Tingkat Nasional, tetapi hanya beberapa kali tampil di Banyuwangi. Kalau situasi sudah membaik, mungkin keinginan saya akan segera terwujud. Sekarang memperdalam yang sudah ada, dengan memoles beberapa gerakan dari para penari dan pemusik,” pungkas Dwi. (sen)

_blank