oleh

Kurangnya Edukasi Pasca Panen, Kopi Produksi Petani Alami Penurunan Mutu

KabarBanyuwangi.co.id –  Kopi Indonesia terkenal sejak abad 19, termasuk kopi yang ada di lereng Gunung Ijen. Namun posisi Indonesia sekarang ada di peringkat 4 pengerkspor kopi dunia, setelah Brasil, Vietnam dan Colombia. Padahal Vietnam baru merdeka tahun 1975, tetapi produksi kopinya sudah di atas Indonesia.

Menurut Teguh Siswanto, pengamat Kopi Banyuwangi, merosotnya kopi Indonesia di mata internasional, karena kurang bagusnya penanganan kopi pasca panen.

“Petani kopi kita kebanyakan kurang paham menangani pasca panen, sekarang kualitasnya kalah denghan Vietnam yang baru merdeka tahun 1975 itu,” tegas Teguh Siswanto, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Selasa (13/10/2020).

Baca Juga: Minum Kopi Robusta Ijen di Alam Bebas, Nikmatnya Tanpa Batas

Baca Juga: Bila Penyandang Tuna Rungu Mendapat Pelatihan Rosting Kopi

Produksi kopi Banyuwangi, 60 persen dihasilkan petani, sisanya 40 persen oleh PT. Perkebunan milik Pemerintah. Luas tanaman kopi di Banyuwangi 15 ribu hektar, Bondowoso 9 ribu hektar dan Situbondo 400 hektar.

“Potensinya memang lebih besar dibanding 2 Kabupaten lain yang ada di lereng Gunung Ijen. Namun jika kurang ditangani dengan baik, bisa-bisa potensi itu tidak ada artinya,” tambah teguh yang sering melakukan perjalanan tunggal di sekitar lereng Ijen ini.

Teguh Siswanto yang juga pemilik El-Kopi Plantition ini, mengaku sejak tahun 2016 melakukan edukasi petani, terutama pasca panen. Namun upaya berbagi pengetahuan tentang kopi itu, hanya terbatas kepada petani kopi di sekitar kebunnya.

“Kalau dilalakukan secara massif, tidak mungkin pribadi seperti saya mampu memberi edukasi kepada petani. Harus ada keterlibatan pemerintah, seperti Dinas Perkebunan,” tambah Teguh.

Hasil panen Kopi harus dijemur di para-para, bukan di tanah. (Foto: istimewa)
Hasil panen Kopi harus dijemur di para-para, bukan di tanah. (Foto: istimewa)

Sampai sekarang, Teguh masih melihat petani kopi yang menjemur hasil petik kopi di tanah. Juga panenya tidak menunghgu merah, atau matang. Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, bisa saja mengancam reputasi Kopi Banyuwangi akan turun kasta. Padahal kopi Ijen dengan proses natural, serta penanganan yang tepat, menjadikan Kopi Banyuwangi, terutama Ijen sangat dikenal.

“Bagi teman-teman yang sudah punya ‘Brand’, dengan proses yang benar. Mungkin tidak masalah, karena pelanggan-pelangganya sudah tahu, Namun bagi produksi tanpa merk, pasti akan disepelekan orang. Apalagi jika ingin ekspor, pasti ada survey bagaimana tanamnya, saat panen dan pengolahannya menjadi biji kopi akan dipantau ketat oleh calon pembeli luar negeri,” jelas Teguh.

Baca Juga: Gelar Songgon Coffee Camp, Kenalkan Potensi Kopi Baru Lereng Gunung Raung

Teguh memberi tip, untuk mendapatkan kualitas sampai dengan grade kopi premium. Pertama, petik kopi yang sudah  matang atau merah. Kedua, Penjemuran di para-para, tidak diatas tanah, Ketiga, kadar air 11-12 persen supaya tidak tumbuh jamur.

“Apabila prosesnya benar, dengan pengawasan ketat masing-masing tahapannya, Saya yakin, proses tidak pernah mengingkari hasil. Kopi Ijen yang lebih di kenal dengan  “a cup of Java”. Terutama Kopi Arabica Ijen, begitu dicecap, terasa paduan asam dan manis yang samar, meninggalkan jejak rasa yang susah untuk dijelaskan,” pungkas Teguh mendiskripsikan rasa kopi Ijen. (sen)

_blank