oleh

M. Lutfi: Mak Pon Selalu Saya Undang Acara Resmi dan Duduk di Depan

KabarBanyuwangi.co.id – Kesan mendalam tentang Maestro Gandrung Poniti almarhumah, atau akrab dipanggil Mak Pon, dirasakan mantan Camat Singjuruh, Moch Lutfi. Menurut Lutfi yang sekarang menjadi Camat Banyuwangi Kota ini, ada yang belum terlaksana hingga akhir hayat Gandrung lengendaris tersebut, yaitu keinginannya datang melihat tempat tugasnya yang baru di Banyuwangi.

“Itu yang membuat saya tidak bisa menahan air mata, kalau mengingat Mak Pon yang begitu tulus dalam hidup dan berkesenian. Saya sejak tahun 2015 masuk ke Singojuruh, langsung bertemu beliau dan terus konsulidasi masalah kesenian. Mengingat nama beliau cukup besar di jagad kesenian Gandrung Banyuwangi, makanya langsung mendekati dan sesekali mengundang ke kantor,” kata Lutfi berkesan.

Lutfi yang juga dekat kalangan seniman Muda Singojuruh, terus merancang berbagai macam event yang mempertemukan seniman muda dengan senior-seniornya yang tinggal di Kecamatan Singujuruh.

“Salah satu event yang masih bertahan hingga saya meninggalkan Singojuruh akhir 2019 adalah Tabuhan Soren. Kegiatan yang berlangsung setiap Sabtu Sore di RTH Singojuruh, menjadikan Mak Pon sebagai simbul dan daya tarik. Kemudian pengiring musiknya anak-anak muda,” jelas Lutfi kepada kabarbanyuang.co.id, Minggu (14/6/2020).

Setelah beberapa kegiatan berlangsung, hubungan Lutfi dan Mak Pon sebagai anak dan Ibunya. Bahkan Mak Pon sering bercanda gurau dengan anak Lufti, Fatih Sadewo umur 3 tahun, seperti nenek dan cucunya.

“Saya merasa berhutang kepada almarhumah, karena belum bisa mensehjahterakan hidupnya. Kendati demikian, Mak Pon itu sekalipun tidak mengeluh dengan keadaannya saat itu. Baginya, hidup ini dijalani dengan ikhlas bagai air mengalir,” kata Luftfi berkaca-kaca.

Baca Juga: Banyuwangi Simulasi New Normal Sentra Kuliner, Pantau Pelayan sampai Juru Masak

Baca Juga: Mamet Ndut: “Mak Pon Itu Keras Kepala, Tapi Nurut ke Saya”

Akibat kedekatannya dan kepeduliannya terhadap Mak Pon, Lutfi selalu mengundang setiap ada acara resmi di Kecamatan Singojuruh saat itu. Meski Mak Pon keberatan, dibujuknya hingga mau agar bisa merasakan hidup senang bertemu, dan berkumpul dengan banyak orang.

“Mak Pon itu, kalau ada acara resmi di Kecamatan saya beri tempat duduk paling depan. Ini saya maksudkan, bahwa hasil jerih payah, dan perjuangan Mak Pon itu sudah selayaknya mendapatkan penghargaan tinggi. Sebagai mana anak dan ibunya, Mak Pon juga tidak segan-segan memberi nasihat,” tambah Lutfi.

Almarhumah Gandrung Poniti bersama Moch Lutfi Mantan Camat Singojuruh yang seperti anak dan ibu. (Foto: istimewa)

Beberapa proyek kesenian di Singjuruh, seperti penampilan Dinasti, adanya Tabuhan Soren setiap minggu dan rencana menjadi Singojuruh sebagai Bumi Angklung yang belum terwujud, semua atas dorongan Mak Pon.

“Kadang saya malah yang ngga enak, karena setiap bertemu selalu memuji-muji saya. Namun bagi saya yang merasa sebagai anakknya, pujian itu sebagai lucutan semangat agar saya terus merealisasikan program pemerintah yang saya emban di Kecamatan Singojuruh,”, papar Lutfi yang saat ini menjabat Camat Banyuwangi Kota ini.

Terakhir, Lurfi mengaku banyak belajar hidup dan bekerja ikhlas dari Mak Pon. Meski keadaan secara materi masih dalam kekurangan, Mak Pon secara Profesional dalam berkarya tidak mengkait-kaitkan.

“Saya juga juga heran, Mak Pon tidak pernah mengeluh kondisi ekonominya. Meski setiap saya undang, sedikit ada uang saku. Namun apabila sibuk, dan lupa, Mak Pon tidak pernah menagih. Justru saya yang ngga enak, dan harus mengantar ke rumahnya. Selamat jalan Mak Pon, karya akan dikenang seniman-seniman penerusmu yang saat-saat terakhir sering menemanimu,” pungkas Lutfi. (sen)

_blank

Kabar Terkait