oleh

Milenial Banyuwangi Berharap, Pelestarian Seni-Tradisi Harus Terkonsep dan Inovatif

KabarBanyuwangi.co.id – Berawal dari mengikuti kegiatan Mocoan Lontar Yusup Banyuwangi, sejumlah anak muda yang tergabung dalam Mocoan Lontar Yusup Milenial (MLYM), mengaku senang dan memahami secara terstruktur tradisi Mocoan Lontar Yusuf yang hingga saat ini masih dilestarikan sebagian warga Banyuwangi. Apalagi kegiatan tersebut dalam bentuk Kemah dan dilanjutkan Upacara Bendera memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Semakin bangga, ikut serta dalam melestarikan budaya di tanah kelahiran yaitu Banyuwangi. Kemah Mocoan Lontar ini, membuat saya semakin memahami perihal ritual-ritual yang harus dilakukan. Mulai isi Lontar Yusup dan lebih memahami serba-serbi mengenai teks pegon yang ada di buku Lontar Yusup,” ujar Naufal Anfal, Ketua MLYM yang mengaku tambah paham setelah menyimak materi yang disampaikan Wiwin Indiarti, Purwadi Budayawan dari Kemiren dan Mohamad Anas.

Baca Juga: Milenial Banyuwangi, Mengisi Kemerdekaan RI dengan “Kemah Mocoan Lontar”

Baca Juga: Warga Desa Kemiren Laksanakan Hormat Bendera Detik-Detik Proklamasi

Baca Juga: Kaum Milenial Banyuwangi Antusias Ikut Pelatihan Mocoan Lontar Yusup

Sebagai Ketua MLYM, Naufal mengaku mempunyai kesan tersendiri. Selain mempersiapkan acara, Naufal juga tidak ingin ketinggalan momen-momen menarik pada acara tersebut. Naufal dan tim harus merangkai acara sedemikian rupa, sehingga kemah yang dilaksanakan tidak hanya bersenang-senang belaka. Melainkan ada ilmu yang didapat dan pembahasan-pembahasan menarik terkait budaya khususnya Mocoan Lontar.

“Saya berharap kepada milenial Banyuwangi, agar sadar pentingnya melestarikan budaya dan adat istiadat, mengingat semakin ke sini, semakin sedikit orang yang mau dan peduli terhadap pelestarian budaya. Oleh karen itu, kami berusaha dan berinovasi membuat kegiatan-kegiatan menarik yang insyaallah bisa menarik minat milenial,” tambah Naufal.

Kegiatan Kemah Mocoan Lontar, juga diisi Outbond di pagi hari, agar peserta lebih segar dan akrab sesama anggota. (Foto: istimewa)
Kegiatan Kemah Mocoan Lontar, juga diisi Outbond di pagi hari, agar peserta lebih segar dan akrab sesama anggota. (Foto: istimewa)

Kebanggaan serupa juga diungakapkan Venedio Nala Ardisa, karena meteri yang disampaikan sangat mudah dipahami, apalagi anggota MLYM sudah beberapa kali berlatih Mocoan. Venedio beharap, acara semacam ini harus sering dilakukan, karena bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap negara dan budaya, seperti pagelaran dan renungan sekaligus.

“Kalau upacara bendera di tengah sawah dengan menggunakan pakaian adat, merupakan kegiatan yang baru pertama kali saya ikuti. Ini menjadikan sebuah pengalaman yang tak terlupakan,” ujar Venedio Nala Ardisa, asal Lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung Kecamatan Giri

Kesan haru mengikuti detik-detik Proklamasi di tengah sawah, juga disampaikan Fiya Qutrunnada. Setelah mengikuti Kemah Mocoan Lontar, Fiya yang juga aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama ini berharap, ada agenda-agenda yang inovatif dengan tidak meninggalkan niat awal dalam melestarikan Budaya Banyuwangi.

“Perihal upacara bendera ditengah sawah, saya begitu khidmat sekali ketika detik-detik proklamasi mulai kami lalui. Meski upacara ini dilakukan tidak seperti biasanya tapi tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Negara Indonesia. Ini juga bentuk upaya saya dan kawan-kawan mocoan, dalam mencintai Indonesia lewat melestarikan budaya yang ada di tanah kelahiran.” ujar Fiya yang asli Sutri, Sobo Banyuwangi.

Peserta Kemah Mocoan Lontar, juha diajak melihat warga yang sedang memungut Semanggi untuk sayur. (Foto: istimewa)
Peserta Kemah Mocoan Lontar, juha diajak melihat warga yang sedang memungut Semanggi untuk sayur. (Foto: istimewa)

Selama mengikui Kemah Mocoan Lontar, peserta tidak saja diberi materi, melainkan juga diajak berlatih Mocoan dan upacara. Ada juga juga kegiatan Oitbond di tengah sawah, ikut memanen Semanggi yang bisa dijadikan olahan khas orang Using. Selain bertambah wawasan secara teoritis, peserta juga bisa memahami lingkup tradisi budaya masyarakat secara langsung.

“Kesan saya selama kegiatan Kemah Mocoan Lontar 16 – 17 Agustus 2020 di Sawah Art Space, sangat luar biasa. Lahan sawah  dan suasana di sana, membuat hati sejuk saat bersama-sama kami bermain, bercanda, berkegiatan yang positif untuk kemajuan pelestarian Budaya di Banywuwangi. Ke depan saya berharap, akan ada kegiatan-kegiatan yang sangat Luar Biasa. Tempatnya kalau bisa di Sawah Art Space, karena sangat dekat dengan alam dan membuat suasana hati kita sejuk,” ujar Tri Wahyuni, warga Perum Griya Giri Mulya, Klatak, Kalipuro, Banyuwangi. (sen)

_blank