oleh

“Pelasan dan Endog Cit” Khas Banyuwangi, Populer di Warung Makan La Wuni Madiun

KabarBanyuwangi.co.id – Warung Makan La Wuni di Jl. Wuni No. 13 Madiun, terkenal dengan menu masakan rumahan, terutama masakan khas Banyuwangi. Pemiliknya adalah pasangan Dyah Mustikasari asli warga Kelurahan Lateng, Banyuwangi dan Yos Rudy Wisnu Wardana, asli Madiun. Sejak tahun 1996, pasangan suami istri Sarjana Satra Indonesia ini, mendirikan rumah makan di belakang Pasar Besar Madiun.

“Awal mula membuka usaha warung makan ini, karena ingin membuka lapangan pekerjaan sendiri, juga karena hobby memasak. Hobby masak sendiri, berawal dari keluarga yang memang basic-nya masak. Menu awal yang dijual, mengalir aja cenderung sederhana. Hanya ayam bakar, rawon, pecel dan urap,” kata Dyah Mustika yang akrab dipanggil Ika, kepada kabarbanyuwangi.co.id Rabu (9/9/2020).

Baca Juga: Saat Pendemi Covid-19, Omzet Aneka Jenang Khas Banyuwangi Turun 50 Persen

Baca Juga: Pertama, Bilik Kuliner Steril Hadir di Kampung Mandar

Baca Juga: Libur Panjang, Rebound Banyuwangi Ramai Wisatawan, Sektor Kuliner Meningkat

Saat itu, semua masakan La Wuni masih membawa citra rasa khas Banyuwangi, asin dan pedas. Warga Madiun atau yang disebut Mataraman, cendrung masakan yang disukai bercerita rasa manis gurih.

“Namun lama kelamaan, masakan khas Banyuwangi bisa diterima lidah orang Madiun. Pedas dan asinnya, sudah tidak dimasalahkan. Bahkan cenderung mengambil citra rasa di tengah, tidak terlalu pedas asin, juga tidak terlalu manis,” tambah Ibu dari anak gadis semata wayang ini.

Warung Makan La Wuni Madiun yang menjual Masakan Khas Banyuwangi. (Foto: istimewa)
Warung Makan La Wuni Madiun yang menjual Masakan Khas Banyuwangi. (Foto: istimewa)

Ika menambahkan, menu-menunya sebagian besar masakan Banyuwangi, seperti Pelasan, kalau Madiun bilang Pepes, juga memakai cita rasa dan bumbu Banyuwangi, Gimbal Jagung, atau Dadar Jagung, Telor Cit dan lain sebagainya.

”Alhamdulillah, sejauh ini tanggapan orang Madiun positif. Pelanggan awalnya warga sekitar Pasar Besar Madiun, kebetulan warung La Wuni ada di belakang Pasar Besar. Lama-lama bergeser ke sales dan naik ke supervisor. Belakangan ke pegawai kantoran. Sekarang sudah masyarakat umum di Kota Madiun dan sekitarnya,” tambah Sarjana Lingustik ini yang mengaku tidak pernah menggunakan ijazahnya untuk melamar pekerjaan.

Pada tahun awal-awal mendirikan Warung Makan, Ika harus mendatangkan pembantu yang memasak dari Banyuwangi. Saat itu masih mudah mencari tenaga kerja dan mau diajak ke Madiun, serta dianggap lebih mudah bila diminta memasak menu khas Banyuwangi.

“Kalau mempertahankan cita rasa khas Banyuwangi sih tidak, karena saya memasak sesuai keingginan pelanggan. Kemudian sekarang, saya dibantu tenaga asli Madiun. Menu Pelasan, Telor Cit dan Gimbal Jagung yang sudah bisa diterima lidah orang madiun tetap dipertankan. Sekali-kali saya juga memasak Sego Cawuk, untuk dimakan sendiri atau kalangan terbatas,” tutur Ibu penyuka makanan pedas ini.

Pemilik warung makan La Wuni Madiun bersama keluarga. (Foto: istimewa)
Pemilik warung makan La Wuni Madiun bersama keluarga. (Foto: istimewa)

Sekarang pelanggan Warung La Wuni sudah merambah ke Kantor dan instansi Pemerintah. Mulai Polres dan Polresta Madiun, Kantor Pemkab dan Pemkot Madiun, juga INKA Madiun sering memesan masakan bila ada acara ke Warung La Wuni.

“Kalau rencana pengembangan, Insyaallah jika diberi kemudahan. Bahkan sekarang Warung La Wuni dikenal dengan menu Sop Buntut, ini juga masih menggunakan resep masakan keluarga di Banyuwangi,” pungkas istri Anggota DPRD Kota Madiun ini. (sen)

_blank