Kelompok Angklung Caruk Ki Ageng Joyo Karyo yang terdiri dari anak muda. (Foto: Dok. Artevac)
KabarBanyuwangi.co.id – Kesuntukan dalam mengamati dan meneliti Angklung Caruk, membuat Karsono mempunyai kesimpulan tersendiri atas seni musik khas Banyuwangi itu. Bahkan Karsono atas kajian ilmiahnya, berani membadingkan Angklung Caruk dengan musik Jazz Kontemporer.
Berikut tulisan terakhir Karsono, M.Sn Dosen Pendidikan Seni, Prodi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang. (Redaksi).
Musik Jazz dalam beberapa aspek diatribusikan sebagai musik
“modern”. Misalnya dalam aspek sejarah sosial, dimana musik tersebut membawa
“ruh” kebebasan, maupun dalam komposisinya yang mengajak audiens bertamsya pada
kemungkinan-kemungkinan musikal baru, yang “agak” melepaskan diri dari
bingkai musik diatonis Barat.
Berkenaan dengan semangat kebebasan ini, tidak heran jika Concise Oxford English Dictionary Revised Edition (2006) kemudian mengidentifikasi jazz sebagai musik yang menonjolkan improvisasi, sinkopasi, dan ritme.
Andai memang indikator-indikator tersebut menjadi penciri musik modern, bukankah kreasi musik pada gending-gending Angklung Caruk sudah mencapai modernitas musikal tersebut.
Kelompok Angklung Sekar Tanjung Desa Alamalang,
Singojuruh. (Foto: Dok/Sekar Tanjung)
Bahkan modernitas musikal itu, mulai dirintis di Banyuwangi pada awal abad ke-17, lihat catatan Stockdale tentang Banyuwangi tahun 1805-an (Hedratha, 2021: vii). Dengan maaf “bias kolonialisasi”-nya, Stockdale pun tidak dapat mendeskripsikan secara fair kedahsayatan garap musik orang Blambangan, kecuali dengan frasa “musik gaduh” dan istilah “menjijikkan” bagi telinga orang Eropa. Meski di akhir kisahnya, ia pun mengakui ada ke-merdu-an di dalam musik orang-orang pribumi tersebut.
Tak hendak menjadi over primordialis, saya hanya ingin
mengajak untuk melihat lebih dalam, bahwa musik Angklung Caruk sebagai musik
tradisi yang mungkin diidentikkan dengan “yang kuno”, “penuh pakem” dan “yang
ketinggalan jaman”, justru sebenarnya telah mendahuli pemikiran muskalitas
zamannya.
Jika musik jazz yang modern adalah musik yang tidak
mengharamkan improvisasi, maka lihat dan dengarkan seksama betapa kebebasan
instrumentasi gending Angklung Caruk adalah tindakan yang lumrah dan lazim bagi
para panjak sejak dulu.
Seniman angklung yang mungkin tidak mengenal secara teknis istilah improvisasi, tetapi telah menerapkan konsep itu selama ini. Sebagai contoh misalnya, pergerakan melodi pokok (gowo) dan melodi ornamentasi (lencangan) dalam gending angklung, keduanya berkait kelindan dalam pola hubungan yang rumit namun harmonis.
Kadang keduanya beriringan, kadang berjalinan, kadang
menyatu, kadang saling melayani, kadang bertentangan dan relasi tersebut
berlangsung secara spontan. Mungkinkah relasi gowo dan lencangan ini adalah ruh
dari sistem interaksi sosial masyarakat Using? (perlu riset lebih jauh
tentunya).
Penulis Buku Angklung Tabung Musik Blambangan,
Elvin Handratha dan Ketua DKB Hasan Basri. (Foto: Dok/Artevac)
Kembali pada perbandingan musikalitas jazz dengan garap
gending angklung. Ketika jazz tampil dengan dominasi sinkop dan permainan
ritmik, gending angklung pun sudah lama menggarap keduanya.
Sinkop dan formula ritmik, merupakan unsur musikal yang
menjadi “mainan” para panjak angklung. Ketika mendengar gending angklung caruk,
dapat ditemukan betapa ketuk angkat (up beat) dipermainkan seenak hati oleh
para panjak, dengan spontanitas rasa, tanpa perhitungan matematis, tapi tepat,
“menyakiti rasa”, karena mampu mengisi up beat dengan sekian nada yang selaras
dengan nada berikutnya.
Sinkopasi tersebut dikuatkan dengan aksentuasi
(hentakan-hentakan) musik bersama yang tak terduga, yang oleh para panjak
sering disebut dengan istilah “jap”.
Beriringan dengan permainan sinkop tersebut, para seniman
angklung juga terbiasa “bercanda” dengan matra ketukan, baik berupa pemampatan
gatra (birama), maupun pelebaran dan penggandaan ketukan. Satu gending dapat
tersusun dari berbagai kerangka kombinasi permainan alat musik structural (pembentuk
irama) yang berbeda-beda hitungannya.
Ada yang 8 ketukan dalam satu siklus gong, ada yang 6
ketukan, ada yang 4, ada yang 3 ketukan, ada yang 2 ketukan, bahkan ada yang
diisi gong terus menerus. Dalam variasi pola irama, melodi dan sinkop yang
rumit tersebut, para virtuoso (musisi dengan musaklitas tinggi) pun show of
force.
Karsono, saat pengabdian mengajar PAUD lagu dan
Dongeng 2016. (Foro. Dok/Pribadi)
Pengendang beratraksi dengan ragam garap keplak-nya, pemain
angklung memainkan rageman dan klocian-nya, dan para penabuh gamelan besi
beratraksi dengan timpal (pola imbalnya).
Dari melihat dan mendengar konstruksi musik angklung caruk,
kadang saya merenung. Jika benar jazz sebagai musik modern indikatornya adalah
improvisasi, sinkop, new rhythm, dan virtuoso, maka bukankah eksplorasi garap
gending angklung caruk sudah melampaui hal itu.
Jika benar kecerdasan musikal berkorelasi dengan tingkat
kecerdasan manusia secara umum, maka betapa cerdasnya musisi-musisi Using ini.
Jika benar pandangan Bruno Nettl bahwa “musik adalah budaya itu sendiri”, maka
betapa bahagianya menjadi masyarakat Using yang budayanya menjunjung tinggi
kebebasan, keberanian, selalu bersedia beriringan, berjalinan, menyatu, dan
saling melayani.
Segala riak dan ombak pertentangan dihadapi dengan cara
“bermain-main”, bercanda dan bersuka cita. Bukankah memang dunia ini permainan
semata?. Terima kasih. (Tamat)