oleh

Pengurus Parpol Jualan Ikan Laut Secara Online, Sehari Menghabiskan 4 Kwintal

KabarBanyuwangi.co.id – Sebagai penghasil ikan laut terbasar, komsumsi masyarakat akan ikan laut juga sangat tinggi. Kondisi Ini bisa dilihat dari seorang penjual ikan laut di Banyuwangi. Meski jualan secara on-line, sehari mampu menjual ikan laut berbagai jenis sebanyak 4 kwintal. Apalagi kondisi pandemo Covid-19, banyak orang ingin meningkatkan imunitas tubuhnya, salah satu dengan memberi asupan protein tinggi yang ada di ikan laut.

“Kesempatan baik berusaha di Banyuwangi adalah jualan ikan laut, tidak perlu keliling kampung seperti penjual ikan laut umumnya di Banyuwangi. Tapi cukup mempromosikan ketersediaan ikan di media sosial (medsos), dan mengirimkan langsung ke alamat pembeli,” kata Achmad Ali Waffa yang tinggal di Kampung Mandar Banyuwangi.

Awalnya, Ali Waffa berjualan Es Cream dan Es Potong, sehari mampu menghabiskan 1.000 potong. Namun saat pandemi Covid-19, banyak sekolah yang libur, praktis penjualan Es Cream dan Es Potong menurun tajam. Kemudian Waffa yang sebelumnya tinggal di Pedotan, Bangorejo ini memutuskan kontrak ruko di Kampung Mandar.

“Tempat tinggal saya yang baru, banyak orang jualan ikan laut, tapi kurang laku, karena harganya relatif mahal. Saya mencari ikan laut membeli di Muncar dan bisa jual dengan harga miring, apalagi saya kirim langsung ke pembeli tanpa tambahan ongkos kirim,” tambah Bapak dari tiga putra, Dzul Izzi Fildan Mikdamul Waffa, Dzilfy Aufatnin Syazania Waffa dan Dzilfa Aufreya Syazia Waffa.

Awalnya Waffa mengambil langsung ke Muncar dengan sepeda motor, sekarang sejalan omzetnya meningkat, ikan-ikan yang ditampung di streofoam box tersebut diangkut menggunakan truk yang kebetulan perjalanan ke Bali dari Muncar.

“Kalau dulu awal-awal saya masih bisa ngatasi dengan sepeda motor, sekarang sudah 4 kwintal sehari tidak mampu diangkut sepeda motor,” kata Waffa yang pernah 4 tahun usaha roti di Jakarta.

Meski sebagai pengurus Partai Politik, Waffa juga masih bisa membagi waktu. Siang digunakan berjulan ikan laut, malamnya mengurus parpol dengan segala aktivitasnya. Kemandirian Ali Waffa dalam hal ekonomi, membuat tidak mudah tergiur uang politik.

“Urusan politik bisa saya pisahkan dengan pekerjaan yang menjadi penghasilan utama saya dan untuk menghidupi keluarga. Berkat jualan online, saya bisa menyewa ruko juga untuk jualan ikan laut,” tegas suami dari Ainatul Aisyah yang asli Lumajang.

Ikan laut jenis Sempenit berada di streofoam box. (Foto: istimewa)
Ikan laut jenis Sempenit berada di streofoam box. (Foto: istimewa)

Waffa juga mengelola beberapa Group Facebook yang berkaitan dengan niaga atau perdagangan. Semua pelanggan ikan laut, kebanyakan juga kenal lewat media sosial. Selain harganya selisih Rp. 5.000 dengan di pasar, Waffa juga menjaga kualitas ikan yang dijualnya.

“Sekarang teman-teman bakul keliling dan online, banyak yang mengambil dari saya. Belum lagi warung-warung makan yang ramai di Banyuwangi kota, sehari bisa pesan 5 hingga 10 kilogram. Belum lagi sejumlah kantor dinas di Banyuwangi, sekali pesan bisa 20 kilogram. Bahkan ada hotel dan perusahaan di Licin, setiap dua hari sekali turun membeli ikan laut ke saya bisa Rp. 1 juta lebih,” kata mantan aktivis Mahasiswa ini.

Ikan yang paling laris adalah Lemuru dan Sempenit, harganya Rp. 8 ribu hingga Rp. 13 ribu per kilogram. Selain itu juga tersedia Tongkol, Baby Kenyar, Kenyar jumbo, Selengseng, Marning dan lain-lain.

“Setiap datang ikan baru, saya selalu posting ke medsos, kemudian ada yang pesan lewat online, ada juga yang datang langsung, Tapi yang datang langsung hanya 10 persen, lainnya pesen via online dan saya kirim langsung ke alamat,” kata Waffa yang juga pernah menjadi staf ahli di DPR-RI.

Di akhir pembicaraannya dengan kabarbanyuwangi.co.id, Minggu (16/8/2020), Waffa berpesan kepada warga Banyuwangi, tidak perlu mengeluh sulit mencari pekerjaan. Jualan ikan laut yang ditekuni, asal ada kemauan pasti ada jalan dan pasti laku.

“Saya yang awalnya menjual setengah kwintal, dalam waktu menjelang setahun omzet sudah tembus 4 kwintal. Kuncinya istiqomah dan tidak mudah menyerah,” pungkas alumni Ibrahimi Genteng ini. (sen)

_blank