oleh

Setelah Vakum Tabuhan Soren Dimulai Lagi, Penonton Sulit Dihalau

KabarBanyuwangi.co.id – Kegiatan “Tabuhan Soren Ngerandu Serngenge” di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kecamatan Singojuruh, yang sempat vakum mulai dihudupkan kembali sejak, Sabtu (11/7/2020) kemarin.  Antusiasme warga masyarakat sekitar Kecamatan Singojuruh membeludak, hingga panitia kesulitan menghalau mereka agar mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Kita sudah lapor ke Desa dan Kecamatan Singojuruh, hanya membolehkan atau memberikan ijin secara lisan. Kegiatan yang sempat vakum selama pandemi covid-19 ini, dilaksanakan setiap Sabtu sore di RTH Singojuruh. Tujuanya, selain menjadikan tempat latihan seniman muda, juga memberi hiburan kepada masyarakat secara gratis,” ujar Andlin Mustika Alam, penggerak Tabuhan Soren.

Secara umum, panitia yang terdiri anak-anak muda ini, sudah mengatur tempat duduk penonton agar tidak berdesakan. Panjak atau penabuh gamelan, jaraknya juga diperlebar menjadi 1 meter.

“Kami secara swadaya membeli hand sanitizer dan tempat cuci tangan. Setiap pengunjung yang datang harus bermasker, cuci tangan dan diberi hand sanitizer. Itu yang bisa dilakukan panitia. Kalau untuk menertibkan penonotn perlu campur tangan Hansip dari Desa dan Satpol PP Kecamatan,” pinta Adlin.

Baca Juga: Gandrung Temu di Tengah Anak-anak Kampoeng Batara

Baca Juga: Innalillahi Wainnalillahi Rojiun, Maestro Gandrung Berpulang ke Rahmatullah

Baca Juga: Mamet Ndut: “Mak Pon Itu Keras Kepala, Tapi Nurut ke Saya”

Tabuhan Soren yang dirintis sejak awal tahun 2019 lalu ini, identik dengan Gandrung Poniti. Setiap Sabtu Sore, almarhumah Gandrung Poniti yang tinggal Dusun Tegalmojo, Desa Kemiri, selalu hadir menyemangati seniman-seniman muda Singojuruh. Bahkan ajang Tabuhan Soren, dijadikan tempat reuni para panjak dan Gandrung masa lalu yang sekarang tidak aktif.

“Masiya sing bisa ndeleng Gandrung Poniti, ndeleng lare-lare wis lega. (Meskipun tidak bisa melihat penampilah Gandrung Poniti, melihat penampilan anak-anaknya sudah lega),” ungkap seorang Ibu asal Dusun Pasinan, Desa Singojuruh yang mengaku sangat kagum terhadap Gandrung Poniti.

Tidak hanya itu, sebagaian besar penonoton juga sudah mengetahui, jika seniman-seniman muda yang tampil di RTH Singojuruh setiap Sabtu sero adalah anak didik dari sang Maestro Gandrung almarhumah Poniti.

Panjak Tabuhan Soren. (Foto: dok istmewa)
Panjak Tabuhan Soren. (Foto: dok istmewa)

Melihat resepon masyarakat cukup tinggi, panitia terus memkampanyekan disiplin kepada para penonotn. Bahkan panitia senaja membuat video tutorial yang disebarakan melui media sosial (Medsos) dan group WhatsApp (WA), agar masyarakat tahu cara menikmati tononan Tabuhan Soren tanpa melanggar protokol kesehatan Covid-19.

“Kru kami terbatas, karena banyak yang terlibat mengisi acara. Tanpa peran dari Hansip dan Satpol PP Kecamatan Singojuruh, mustahil kami bisa menertibkan antusiasme penonton. Kami akan menemui langsung Camat dan Polsek Singojuruh, sebagai pemangku wilayah. Kami akan ikuti aturan, tapi mohon bantaun dan kerjasamanya,” pungkas Sarjana Kesenian Alumni STKW Surabaya ini.

Dengan dibukanya kembali Tabuhan Soren yang sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 ini diharapkan mampu mengobati kerinduan para seniman muda dalam berkraeasi di dunia seni. Tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan Covid-19 sesuai anjuran pemerintah. (sen)

_blank

Kabar Terkait