oleh

Siang Bolong, Menari Gandrung Dor di Tengah Cuaca Panas Hongkong

KabarBanyuwangi.co.id – Suasana Hongkong yang masih pandemi, membuat keandaan sehari-hari tidak sama dengan biasanya. Para buruh migran yang biasa pada hari libur bersuka-suka di sejumlah taman dan pinggir laut, sekarang tidak bisa leluasa lagi.

Semua aktivitas ada yang mengawasi secara ketat oleh pihak keamanan, polisi dan petugas imigrasi. Sabtu (22/08/2020) kemarin, Larosa Arum mendapat undangan untuk tampil dalam acara Agustusan pada hari Minggu.

Tentu saja saya kelabakan, karena dalam waktu sehari harus mengkoordinir teman-teman yang tempat tinggalnya berjauhan. Kebetulan hari Minggu saya tidak ada kegiatan, dan atas nama Paguyuban Larosa Arum, saya wajib menghadiri acara tersebut.

Sebelum hadir di acara, pengundang mewanti-wanti saya agar mematuhi protokol kesehatan. Saat menari, juga harus mengenakan face sheild. Untung saya sebelumnya sudah mengetahui kondisi ini, saat ada sosialisasi seni tari di Banyuwangi saat pandemi.

Baca Juga: Hongkong Panas, Berlibur dan Rekreasi Memilih Malam Hari

Baca Juga: BMI: Bertahan Hidup Membuat Tempe Gembos, Saat Lockdown Di Hongkong

Saya memutuskan menarikan Gandrung Dor, karena kostumnya simpel dan tidak harus menghubungi teman-teman lain. Mengingat kostum Gandrung milik Larosan Arum juga dipegang masing-masing anggota.

Sekarang kostum sudah, pilihan tarian sudah, tinggal kesiapan mental tampil di sing bolong dengan kondisi Hongkong yang panas membara. Minggu kemarin, cuaca Hongkong berkisar 30 derajat celcius. Tentu saja membuat keder, kalau tidak dengan niat secara tulus dan serius.

Baca Juga: Liburan Di Tengah Lockdown Hongkong Kedua

Tiba di lokasi sesuai yang diinginkan panitia, saya kemudian menyiapkan diri sambil menunggu giliran tampil. Penonton tidak boleh bergerombol, jaraknya satu setengah meter setiap satu orang dengan orang lainnya. Petugas keamanan dan kepolisian setempat, mengawasi secara ketat bila ada yang nekat bergerombol.

Meski terkesan tampil apa adanya, inilah yang ingin saya tegaskan kepada teman-teman yang mengundang bentuk solidaritas sesama paguyuban di negeri orang. Saya juga ingin membuktikan, dengan tampilan yang mungkin jarang mereka ketahui, masih bisa berekspresi menari Gandrung khas Banyuwangi.

Tibalah giliran saya tampil, dengan membawakan Tari Gandrung Dor yang sudah bisa saya kuasai saat masih di Banyuwangi. Saya ingin tampil maksimal, agar tidak mengecewakan pengundang, maupun yang hadir. Mengingat setiap acara seperti ini, tampilnya Larosa Arum dengan tari Gandrungnya sangat ditunggu-tunggu.

Penulis mengenakan face sheild bersama temanya sesama BMI. (Foto: istimewa)
Penulis mengenakan face sheild bersama temanya sesama BMI. (Foto: istimewa)

Alhamdullilah, saat saya mulai beraksi, tepuk tangan sorak-sorai terus silih berganti. Saya juga membawakan tarian dengan riang, para hadirin meresponnya dengan baik dan antusias. Penampilan saya ternyata tidak mengecewakan, meski tanpa latihan dan persiapan matang.

Setelah tampil, banyak penonton yang mendekat ke saya atau sekedar komentar lalu-lalang. Mereka tidak mengira, ada Tarian Gandrung yang tanpa mengenakan Omprok sebagai mahkota. Mereka juga baru tahu, jika tarian Gandrung sangat luwes dengan kostum yang sederhana.

Acara Agustusan dilanjutkan dengan ramah tamah, tentu dengan makanan dan jajanan khas Indonesia. Dirgahayu ke-75 Republik Indonesia, semoga jaya dan tetap damai negeriku.

(Penulis: Cahya Larosa, BMI asal Banyuwangi di Hongkong)

Redaksi menerima tulisan dari para Netizen, tentang apa saja asal tidak mengandung sara dan ujaran kebencian. Mulai dari Wisata, Kuliner atau cerita perjalanan. Bisa dikirim lewat email redaksi@kabarbanyuwangi.co.id atau melalui WhatsApp (WA) +6289682933707, beserta foto dan keterangannya. Terimakasih.

_blank

Kabar Terkait