Siswa SD Terpencil Kayangan, Banyuwangi, Sekolah Sambil Mengasuh AdikKisah Guru

Siswa SD Terpencil Kayangan, Banyuwangi, Sekolah Sambil Mengasuh Adik

Siswa SDN 4 Segobang Licin, Belajar sambil mengasuh adiknya di kelas. (Foto: Abdul Halim)

KabarBanyuwangi.co.id – Sebelum saya masuk sebagai tenaga pengajar di SDN 4 Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi, kondisi alam yang sangat sulit dijangkau dan penduduknya yang masih pra sejahtera, sudah saya pelajari lebih awal. Baik melihat langsung, maupun dengan menggali informasi dari masyarakat.

Lokasi SDN 4 Segobang, berada di Dusun Kayangan, berada di dataran ringgi, 1400 meter di atas permukaan laut (MDPL). Jarak dari Desa Segobang tempat tinggal saya sekitar 8 kilometer, tetapi jarak 2 kilometer, 17 tahun lalu masih berupa jalan setapak mengelilingi tebing curam.

Pengetahuan saya tentang Dusun Kayangan yang sebagian besar penduduknya sebagai buruh tani, membuat saya penuh maklum jika ada kaitannya tentang siswa saya. Baik itu kedisiplinan sekolah, maupun bentuk-bentuk lainnya.

Baca Juga :

Seperti kejadian pada hari Senin (7/6/2021) lalu, saat persiapan upacara. Ibu dari Akbar Muzaki kelas 4, bernama Imamiya dan Bapaknya Mishan datang ke halaman sekolah. Sehabis upacara, Akbar sambi menuntun adiknya menghampiri saya.


Beginilah belajar sambil mengasuh adik. (Foto: Abdul Halim)

Ibuknya Akbar tanpa basa-basi langsung bilang ke saya: “Pak Guru (kebiasaan orang Kayangan tidak pernah menyebut nama, hanya jabatannya). Kula titip bocah hang alit nggih? Adike Akbar. Kula ajeng medamel. Bapake Akbar ajeng ndaut teng Ledok ngisor. Lan malih, kersane wani teng sekolah”.

(Pak Guru, saya titip anak yang kecil ya? Adiknya Akbar. Saya mau kerja. Bapaknya Akbar juga akan -mencabut benih padi - buruh tani di Dusun Ledok bawah. Dan sekalian, biar berani ke sekolah).

Kalau sudah begitu, saya sebagai guru harus mengiyakan tidak ada kata lain. “Oh nggih Mbok. Mboten napa-napa (Oh ya Mbak, tidak apa-apa)”, jawab saya sambil melihat Ibu Akbar berlalu meninggalkan halaman sekolah.

Kebetulan di samping saya, ada Kepala Sekolah SDN 4 Segobang, Bapak Didik Hariono. Pria asli Malang ini, sudah 28 tahun dinas di Dusun Kayangan tidak mau pindah. Selama di Kayangan menempati ruangan Perpustakaan, karena belum punya rumah dinas.

Pak Didik, dulu bertempat tinggal di Dusun seberang, daerah Sengkan Samak, masuk wilayah Dusun Bangeran, Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat. Melihat orang tua Akbar ke sekolah membawa anak kecilnya dan saya utarakan keinginanya, Pak Didik hanya menganggukkan kepala.

Saya dan Pak Didik sudah hafal watak dan kebiasaan orang Kayangan, jadi harus banyak kompromi dan memaklumi. Keadaan ekonomi memang demikian, kalau dibawa kerja ke sawah tentu tambah merepotkan dan kasihan anaknya.


Kondisi Jalan menuju Dusun Kayangan loaksi SDN 4 Segobang, Licin. (Foto: Abdul Halim)

Setelah serah terima dari orang tuanya, Akbar mengajak adiknya masuk ruang kelas 4 tempatnya belajar. Namun adiknya tiba-tiba minta pipis, Akbar langsung bergegas ke belakang sekolah kebetulan ada aliran sungai kecil yang menuju persawahan penduduk Kayangan.

Kejadian anak didik di sekolah sambil mengasuh adiknya, sudah berjalan 2 tahun lalu. Bahkan sekarang ada 4 orang siswa, dengan alasan orang tuanya tidak jauh berbeda dengan orang tua Akbar Muzaki.

Selama siwa mendapatkan pelajaran dari guru, sang adik diajak duduk berdampingan. Selama ini memang tidak ada yang rewel, kebanyakan menurut apa yang diminta kakaknya. Begitu juga teman-teman di kelasnya, tidak ada yang merasa terganggu.

Sebagaimana siswa lainnya, ‘siswa titipan’ ini juga datang pada pukul 06.30 WIb dan baru pulang pukul 11.30 Wib. Saya heran, selama 6 jam di sekolah, sang adik hanya dibekali air putih dari orang tuanya.

Saya dan pihak sekolah tidak bisa berbuat banyak, selain menerima dan ikut mengawasi. Kesimpulan saya, ikatan kekeluargaan orang-orang desa cukup kuat, karena hubungan kakak dan adik bukan hanya hirarki kekeluargaan, namun ada sentuhan emsosial sejak dini. Sak kakak sudah diberi tanggung jawab mengasuh adiknya, sang adik juga harus tunduk kepada kakaknya.

Saya dan Derwan Guru bersama Kepala Sekolah, sepakat memberikan makanan tambahan bagi adik dari siswa tersebut. Terutama saat istirahat sekolah, dengan makanan sederhana. Ini sebagai rasa kepedulian kami, terhadap kelangsungan pendidikan. Apalagi motivasi orang tuanya menitipkan anak bersama kakaknya yang sedang sekolah, salah satunya agar kenal dengan lingkungan sekolah.

(Penulis: Abdul Halim, Guru terpencil di Dusun Kayangan, SDN 4 Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi)