oleh

Tiga Sanggar Tari Bersatu Garap Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”

KabarBanyuwangi.co.id – Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali”, hasil kejarsama Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kabupaten Banyuwangi, melibatkan 3 Sangar Tari.

Tiga sanggar yang tergabung dalam Patih Senawangi (Paguyuban Pelatih Seni dan Tari Banyuwang) itu adalah Sanggar Sayu Wiwit Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi, Sanggar Tari Gandrung Arum, Cluring dan Sanggar Tari Laros Wangi, Desa Kemiren Kecamatan Glagah.

“Kebetulan letak Sanggar Sayuwit berada di tengah, yaitu Desa Aliyan, maka teman dari Gandrung Arum Cluring dan Laros Wangi Kemiren memilih tempat kami sebagai latihan. Meskipun persiapan relatif singkat, sendratari melibatkan 60 penari dan 20 panjak dan sinden, ini bisa berjalan sesuai rencana,” kata Julaidi, pemilik Sanggar Sayuwiwit yang akrab dipanggil Kang Joel, Sutradari Sendratari.

Baca Juga: Disbudpar Gelar Simulasi Seni Pertujukan Sendratari Sritanjung Hidup Kembali

Baca Juga: Kabar Gembira: Banyuwangi Wakili Jawa Timur Dalam Festival Musik Daring Nasional 2020

Baca Juga: Koreografer Muda Banyuwangi Tertantang Berkarya di Era Normal Baru

Pimpinan produksi, Suko Prayitno menjelaskan, tidak ada kesulitan yang berarti dalam proses penggarapan dan latihan Sendratari Sritanjung Hidup Kembali. Semua yang terlibat dari tiga sanggar berbeda, sejak awal terlihat kompak dan nyaris tidak ada perdebatan.

“Awalnya kami latihan dengan lakon “Banterang Surati”, namun dari Kadisbudpar, Pak Bram (MY. Bramuda) tidak setuju dan minta ganti versi lain. Kami tidak mengalami kesulitan, tinggal mengubah alur cerita saja,” kata Suko yang juga pimpinan Sanggar Tari Gandrung Arum, kepada kabarbanyuwangi.co.id, Kams (13/8/2020).

Hal yang sempat memusingkan pelaksana adalah, saat mencari (casting) tokoh Sritanjung dan Sidopokso. Karena kedua tokoh sentral itu selain harus luwes dalam tarian, juga dituntut merdu dalam nyanyian.

“Ini kan sendratari langsung, kedua tokoh utama yaitu Sritanjung dan Sidopokso dalam dialognya menggunakan nyanyian yang diiringi gamelan. Setelah melalui seleksi ketat, akhirnya kita menemukan dan insya`allah tidak mengecewakan,” kata Kang Joel.

Gladi Kotor Sendratari "Sritanjung Hidup Kembali" di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. (Foto: istimewa)
Gladi Kotor Sendratari “Sritanjung Hidup Kembali” di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. (Foto: istimewa)

Sendratari semi kolosal ini, melibatkan gabungan seniman muda tradisional dan Sarjana seni bidang kerawaitan dan tari. Pimpinan Produksi, Suko Prayitno, Sutradara Julaidi alias Kang Joel. Pelatih  Slamet Diharjo, S Sn. Anton Widiantoro, dan Acox Kusomo, S Sn. Penata musik Pungki hartono, S Sn, Adlin Mustika, S Sn, dan Moh Ikwan, asisten pelatih, Nanang Suorobo, Moh Alfianto, Wimbi, Dwi Susanti.

“Kami semua yang terlibat dalam garapan ini, menomorsatukan profesionalisme. Sehingga bisa bersatu dan prosesnya lancar, meski kami dari latar belakang yang berbeda. Ketentuan protokol kesehatan tidak ada masalah, jika penari harus mengenakan face shield dan panjak semua bermasker. Bahkan ketentuan tidak boleh pinjam pakai cosmetik juga tida ada masalah. Karena penari kami rata-rata sudah bisa make-up sendiri dengan make-up yang dibawanya sendiri,” pungkas Suko Prayitno. (sen)

_blank

Kabar Terkait