oleh

Transformasi Ikan Cupang, Dari Aduan Hingga Jadi Hiasan yang Digandrungi di Massa Pandemi

KabarBanyuwangi.co.id – Terbatasnya aktivitas di masa pandemi seringkali dianggap sebagai ancaman ekonomi bagi sebagian orang. Namun, jika jeli memanfaatkan moment, ternyata masih banyak peluang yang ditekuni untuk menambah pundi-pundi pendapatan. Seperti yang dilakukan Mohammad Adhi Prasetya, seorang guru SMKN 1 Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur ini. Untuk menambah penghasilan di massa pandemi, ia memilih menekuni bisnis sampingan berdagang ikan cupang di rumahnya.

“Selepas menjalankan tugas utama memberi pengajaran secara daring kepada murid, saya sibuk dengan aktivitas baru, merawat ikan-ikan cupang di teras rumah. Berbagai macam jenis ikan cupang ada di aquarium kecil ini. Mulai dari cupang jenis plakat, half moon, red dragon, cupang nemo dan jenis ikan cupang lainnya,” kata Mohahammad Adhi Prasetya, seorang guru yang juga menjadi pedagang ikan cupang.

Memanfaatkan tren ikan cupang yang sekarang lagi digandrungi banyak masyarakat, berbagai ikan dengan nama latin betta s-p ini ia pelihara untuk diperjual belikan. Bahkan sejak beberapa bulan terakhir ini dirinya mulai serius menekuni bisnis sampingan berdagang ikan cupang di rumahnya. Selain untuk mengisi waktu luang saat di rumah, bisnis ikan cupang bisa dikatakan bisnis yang sangat mudah dan menguntungkan.

Baca Juga: Melihat Budidaya Jambu Kristal, Cocok Dikosumsi Saat Pandemi Covid-19

Baca Juga: Tanaman Hias Aglaonema Ngetren di Masa Pandemi

Baca Juga: Mengeksplotasi Diri Dengan Karya Bernuansa Seni, Cara Bertahan Seniman Hadapi Pandemi

Untuk memelihara ikan cupang pun tak perlu lahan yang luas, cukup memanfaatkan teras sempit berukuran 1 x 2 meter yang ada di depan rumahnya, ikan-ikan cupang dagangan pria pemilik Virq Farm Banyuwangi ini bisa tetap bertahan hidup dengan baik. Yang terpenting, kebersihan air aquarium dari ikan cupang ini tetap harus terjaga.

“Empat hari sekali, air aquarium harus diganti, agar kulit ikan tidak mudah dijangkiti jamur. Air aquarium juga perlu diberi sedikit garam maupun obat alami dari daun pohon ketapang. Daun ketapang yang sudah mengering ini cukup dimasukkan ke dalam aquarium dengan tujuan menetralisir air aquairum dari serangan bakteri, maupun jamur yang bisa merusak keindahan dari sisik, maupun sirip halus dari ikan cupang,” tambah pria 36 tahun ini.

Tren ikan cupang kini sudah bertransformasi, jika dulunya ikan ini dibeli untuk diadu, namun kini ikan cupang diburu masyarakat untuk dipelihara karena keindahan bentuk maupun warnanya.

”Sudah enggak zamannya sekarang ikan cupang diadu, mungkin eman-eman kalau diadu. Sekarang ikan cupang ini dibeli masyarakat memang untuk dirawat sebagai ikan hias. Biasanya ikan cupang dimasukan ke dalam botol kecil lalu ditaruh di meja kantor maupun di dalam kamar sebagai pajangan. Masa pandemi orang lagi banyak kegiatan di rumah saja, mungkin dengan merawat ikan cupang bisa untuk mengisi kesibukan di rumah saja,” tambah Adhi.

Bisnis ikan cupang yang ditekuni Adhi ini juga tidak membutuhkan modal yang cukup banyak. Di awal memulai bisnis sampingannya, ia cukup mengeluarkan modal Rp 500 ribu, itu sudah termasuk bibit cupang dan botol-botol bekas untuk dijadikan aquariumnya. Kini, per hari pengajar di mata pelajaran perikanan ini bisa menjual 5 hingga 10 ekor ikan cupang per harinya dengan harga bervariasi mulai dari Rp 10 ribu hingga ratusan ribu rupiah.

“Karena zaman sudah canggih, jika dulu ikan cupang dijual di depan sekolah-sekolah, sekarang ikan cupang sudah laku dijual online. Pelanggan saya ada yang dari Medan, Kalimantan, Sulawesi dan kota-kota lainnya. Alhamdulillah hasilnya lumayan, apalagi di masa pandemi ini, penjualan mengalami peningkatan dibandingkan sebelum-sebelumnya. Pelanggannya juga tak hanya dari kalangan anak-anak, tapi orang dewasa juga banyak,”pungkas bapak dua anak yang beralamat di Jalan Bengawan, Gang Anonim No. 16, Banyuwangi ini. (man)

_blank