oleh

Warga Desa Barurejo Aksi Tolak Tambang Pasir Bawa Keranda Mayat ke Lokasi

KabarBanyuwangi.co.id – Puluhan warga Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi menggelar aksi demo tolak tambang pasir. Mereka melakukan long march sambil mengusung keranda mayat menuju lokasi pertambangan yang diduga tidak mengantogi ijin, Senin (24/8/2020).

Tiba di lokasi tambang, pendemo membentangkan poster bertuliskan protes terkait keberadaan tambang yang diaggapnya liar. Warga juga berorasi meminta pemerintah desa setempat menutup total dan memberikan tindakan tegas kepada pengelola tambang pasir.

“Aksi ini merupakan aksi kami untuk menagih janji kepada Pak Kades dan Pak Kapolsek. Dalam dialog hari Jumat lalu disepakati tambang sudah ditutup. Tapi kenyataannya tambang masih buka terus,” jelas Mulyono, Kooordinator Aksi.

Warga mengusung keranda. (Foto: istmewa)
Warga mengusung keranda. (Foto: istmewa)

Mulyono menambahkan, keberadaan tambang pasir tidak dikehendaki sebagaian warga, karena kurang bermanfaat. Banyaknya mobilitas armada angkutan pasir, malah merusak lingkungan dan akses jalan desa setempat.

“Tambang pasir ini tidak bermanfat bagi warga, malah justru merusak linkungan dan merusak jalan desa,” tambah Mulyono.

Baca Juga: Puluhan Mahasiswa Turun Jalan Tolak Perluasan TWA Kawah Ijen

Baca Juga: Ratusan Pengusaha Sound System, Terop dan Pelaku Seni Demo Gugus Tugas Covid-19 Banyuwangi

Menanggapi aksi protes warga, pihak desa bersama forum pimpinan Kecamatan akan segera melakukan koordinasi dengan pemilik tambang pasir agar tidak melakukan lagi aktivitas penambanan pasir di Desa Barurejo. Setelah aspirasinya didengar oleh pemerintah desa, puluhan pendemo membubarkan diri.

Namun jika janji tersebut tidak segera ditindaklanjuti, warga mengancam akan menggelar aksi lagi hingga aktivitas tambang pasir bener-benar berhenti total.

“Kalau tetap beroperasi ya warga akan menggalang tanda tangan beramai ramai agar Kades turun dari jabatannya,” pungkasnya.

Pengumuman penutupan aktivitas tambang. (Foto: istmewa)
Pengumuman penutupan aktivitas tambang. (Foto: istmewa)

Sementara itu, Kapolsek Siliragung AKP Sumono menjelaskan, pihak Kepolisian bersama Forpimka Kecamatan sebenanya sudah menutup akivitas penambangan sejak seminggu lalu. Namun kembali beroperasi hingga menimbukan gejolak sebagaian masyakat yang tidak menghendaki keberadan tambang pasir.

“Seminggu lalu tambang sudah kami tutup bersama Forpimka. Ini tambang manual tidak pakai alat berat, hanya pakai cangkul. Ngangkutnya pakai gerandong, tidak pakai truk. Pemilik beralasan buka tambang agar warga sekitar bisa bekerja. Tapi ternyata ada sebagian warga tidak menghendaki adanya aktivitas tambang karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan,” jelas AKP Sumono, Kapolsek Siliragung. (red)

_blank