Ini Cerita Dua Pedagang di Pasar Sraten Sempat Terseret Angin Puting BeliungPuting Beliung


Ini Cerita Dua Pedagang di Pasar Sraten Sempat Terseret Angin Puting Beliung

Keterangan Gambar : Erpan (kiri), Agus (kanan) korban terseret puting beliung di Pasar Sraten saat di Puskesmas Benculuk, Cluring, Jumat petang. (Foto: Istimewa) (Fot

KabarBanyuwangi.co.id - Hujan lebat disertai puting beliung menerjang wilayah Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Jumat (5/2/2021) sore. Meski tidak berlangsung lama, namun terjangan angin kencang tersebut membuat puluhan atap bangunan rumah dan pasar beterbangan ke udara.

Selain itu peristiwa tersebut juga merusak sejumlah atap bangunan pasar dan papan baliho berukuran besar di tepi jalan raya terlepas hingga terjatuh ke jalan raya. Beruntung, reruntuhan baliho yang sempat terbang ke udara tidak sampai menimpa warga maupun pengendara yang melintas di jalan raya.

Kencangnya angin puting beliung ternyata sempat menyeret dua pedagang pasar hingga sejauh 50 meter. Dua pedagang pasar bernama Agus (30) penjual sentrat di Pasar Sraten dan Erpan (52) penjual buah asal Desa Kebaman, Srono, terseret angin saat berupaya keluar dari lapaknya untuk mencari perlindungan diri dari terjangan angin.






Baca Juga :

Naas, baru saja keluar dari lapak dagangannya, mereka berdua langsung terbawa angin hingga membuat mereka terluka. Oleh warga, keduanya langsung dievakuasi ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Beruntung, kedua pedagang ini dilaporkan hanya mengalami luka ringan. Namun, akibat sempat terseret puting beliung, membuat keduanya trauma.

“Saya itu keluar mau cari perlindungan. Tapi malah terbawa angin sampai berputar-putar. Saya tidak ingat berapa meter tadi karena seperti tidak sadar. Alhamdulillah saya selamat, hanya luka ringan saja. Tapi saya takut sekali,” kata Erpan, saat berada di Puskesmas Benculuk, Cluring.

“Kalau saya tadi pas lagi melayani penjualan sentrat konsumen saya. Waktu membantu mengangkat sepeda motor konsumen karena mau roboh, saya malah iku terseret angin kira-kira sejuah 50 meter. Anginnya dari barat ke timur. Saya tidak sadarkan diri, lalu di bawa ambulance untuk menuju ke sini (Puskesmas),” ujar Agus, pedagang lainnya.

Dari data Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi mencatat ada 15 rumah mengalami rusak berat, 12 bangunan rusak ringan, sejumlah pohon tumbang hingga memutus aliras listrik di kawasan tersebut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Giofisika (BMKG) Banyuwangi mengimbau masyarakat waspada, sebab angin kencang disertai hujan lebat yang ditandai dengan tumbuhnya awan comulonimbus masih berpotensi terjadi hingga awal Maret mendatang.

“Kita belum bisa pastikan ya itu angin puting beliung atau angin kencang. Tapi dari pantauan radar kami, cuaca buruk yang kerap terjadi ini perlu memang diwaspadai karena saat ini memasuki puncaknya musim penghujan. Diperkirakan masih akan terus terjadi hingga awal Maret mendatang," jelas Prakirawan BMKG Banyuwangi, Anjar Triono Hadi.

"Masyarakat harus waspada kalau cuaca sedang mendung disertai awan comulonimbus. Karena awan itu bisa memicu terjadinya angin kencang, hujan lebat hingga petir,” imbuhnya.

Cuaca buruk yang kerap kali terjadi di kawasan Banyuwangi ini disebabkan sudah memasuki puncak musim penghujan. Selain hujan lebat dan angin kencang, warga juga harus waspada akan musibah lain seperti banjir dan tanah longsor.

Warga pesisir juga diminta waspada akan adanya angin kencang hingga gelombang tinggi. Warning ini berlaku ke semua wilayah yang ada di kawasan Jawa Timur.

“Masyarakat harus tetap waspada. Kalau hujan lebat dan angin terjadi, jangan cari perlindungan di bawah pohon. Lebih baik cari tempat yang lapang untuk menyeleamatkan diri,” pungkasnya. (man)