oleh

Ini Ribetnya Punya Hajat Saat Pandemi, Dilarang Berjabat Tangan Dengan Mempelai

KabarBanyuwangi.co.id – Bulan Zulhijah tahun Hijiryah, atau menurut kalender Islam, biasanya banyak orang menggelar hajatan. Baik menikahkan atau menghitankan anaknya, karena bulan Zulhijah diyakini sebagai bulan baik.

Namun dalam suasana Normal Baru seperti sekarang, tentu harus memenuhi standart protokol kesehatan Covid-19 yang ditetapkan pemerintah bila akan menggelar hajatan.

Bagaimana ribetnya menggelar hajatan saat pendemi, mulai persiapan hingga pelaksanaan?  Seperti yang dirasakan pelukis Senior Banyuwangi, S Yadi K yang baru mantu Minggu (19/07/2020) kemarin.

“Saya termasuk orang yang taat protokol Covid-19, sehingga sejak awal saya mengurus perijinan mulai dari Kecamatan, Mapolsek, dan instansi terkait. Awalnya dilakukan keluarga, tapi akhirnya nyerah dan diputuskan menggunakan Wedding Organizer (WO),” kata Yadi kepada KabarBanyuwangi.co.id, Rabu (22/7/2020).

Akad Nikad harus mengenakan masker. (Foto: dok Fello photography)
Akad Nikad harus mengenakan masker. (Foto: dok Pello photography)

Saat memilih WO, Yadi dan keluarga masih menyeleksi apakah sudah mengetahui standart protokol Covid-19 atau belum. Mengingat, apa yang disampaikan pejabat Satgas Covid-19 Kecamatan Glagah, rencana harus detail, mulai dari fasilitas, layout tempat akad nikah dan resepsi jumlah tamu yang boleh masuk, dan tidak ada hidangan prasmanan.

“Alhamdulillah, dua minggu sebelum pelaksanaan saya menemukan WO Rewang. Anak-anak muda ini memang cekatan, cepat kerjanya dan responsif setiap ada ide dari keluarga. Dan yang penting, WO Rewang ini sudah ikut sosialisasi mengadakaan kegiatan saat Normal Baru di Hotel El-Royal dan bersertifikat,” jelas pemilik Omah Seni S Yadi K ini.

Meski persiapan sudah matang, semua rencana dituangkan di atas kertas sebagai konsep. Namun menjelang pelaksanaan, tetap harus melalui proses gladi dengan diawasi langsung petugas Satgas Covid-19.

“Nah, tahapan ini mulai membuat saya gelisah. Saya kasihan vendor yang sudah menata panggung dan dekorasi, karena harus bongkar pasang ulang. Padahal, pemasangan itu sudah dirancang sesuai konsep dari WO dan persetujuan keluarga,” tambah Yadi sambil menghela nafas panjang.

Foto tamu dengan mempelai harus berjarak, atau berada di bawah panggung. (Foto; istimewa)
Foto tamu dengan mempelai harus berjarak, atau berada di bawah panggung. (Foto: istimewa)

Jika pada resepsi pernikahan umumnya rentang waktu undangan agak panjang, tetapi pada saat resepsi pernikahan putri S Yadi K, Ayu Budi Triastiti, SP hanya diberi waktu 1,5 jam setiap 50 orang tamu. Saat resepsi hanya keluarga dekat yang hadir, dengan jumlah 30 orang maksimal dan duduknya berjarak (physical distancing).

“Ini semua untuk menghindari kerumunan, agar tidak bergerombol. Saat di pelaminan, para tamu tidak boleh naik panggung mengucapkan selamat kepada mempelai dan keluarga. Ini yang membuat saya sedih, karana para tamu yang saya undang hanya bisa memberi ucapan di bawah panggung. Bahkan untuk foto bersama mempelai, para tamu harus berada di bawah panggung dengan mempelai sebagai background-nya,” ujar Yadi sedih.

Setelah menggelar hajat mantu, Yadi mengaku banyak meminta maaf kepada teman-temannya. Tidak semua teman diundang, karena alasan keterbatasan tempat dan waktu. Kepada yang datangpun, Yadi mengaku tetap meminta maaf, karena mungkin tidak nyaman dengan ketentuan yang ada.

“Saya hanya bisa mengambil hikmahnya, ini peristiwa baru dan kelak akan menjadi cerita tersendiri untuk dikenang anak cucu. Meskipun tidak ada komplain dari teman dan saudara yang menghadiri hajatan, tetapi saya selain mengucapakan terima kasih, tetap mengulang-ulang permohonan maaf. Ini semua keadaan yang mengharuskan, bukan saya pribadi. Alhamdulillah teman dan saudara memaklumi dengan cara baru ini,” pungkas Yadi. (sen)

_blank