oleh

Timur Pradoko, Hakim Asal Banyuwangi Pernah Diminta “Ngajari” Cara Bertani Buah Naga

KabarBanyuwangi.co.id – Kesuburan lahan pertanian Banyuwangi, dengan aneka ragam tanaman yang dibudidayakan, membuat orang luar Banyuwangi ingin bisa belajar kepada siapapun asal orang Banyuwangi. Pengalaman itu dirasakan Timur Pradoko, SH. MH yang sekarang menjabat Ketua Pengadilan Negeri Kelas 1A, Tanjungkarang.

Menurut pria kelahiran Purwoharjo Banyuwangi, saat bertugas di sejumlah tempat di Indonesia, kerap kali bercerita tentang keindahan alam Banyuwangi, Kesuburan tanah pertanian dan keragaman seni budaya.

“Ini saya alami saat bertugas di Pangkal Pinang dan Tanjungkarang, warga yang sering melihat di media masa tentang suasana wilayah Banyuwangi yang subur. Cerita tentang petani Banyuwangi yang berhasil, akhirnya mereka meminta saya mengajari cara tanam buah naga,” ujar Timur Pradoko yang akrab dipanggil Koko ini kepada kabarbanyuwangi.co.id, Selasa (8/9/2020).

“Padahal saya seorang Hakim, tentu tidak bisa seperti harapan mereka. Saya hanya bisa mengenalkan warga di tempat saya tugas tersebut, dengan petani buah naga sesungguhnya yang banyak di kawasan Banyuwangi selatan,” imbuhnya.

Selama menjalani karir sebagai Hakim sejak tahun 1996, Koko mengaku mendapat pengalaman berharga di bidang sosial budaya. Bekal inilah yang sering digunakan menjadi bahan untuk memberi contoh dalam menangani masalah sosial yang muncul di tempat tugasnya.

“Saat menjadi Kepala PN Banyuwangi tahun 2016, saya sering mencontohkan kerukunan masyarakat di daerah Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Daerah yang multi agama tersebut, relatif rukun dalam keseharianya dan mudah didamaikan apabila muncul gejolak. Ini saya ceritakan langsung, saat saya bersama Muspida Banyuwangi bertemu dengan masyarakat,” kata Hakim lulusan S-1 dan S-2 Fakultas Hukum Univeritas Jember ini.

Timur Pradoko, SH MH bersama staf, saat menjabata Ketua PN Waingapu Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: istimewa)
Timur Pradoko, SH MH bersama staf, saat menjabat Ketua PN Waingapu Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: istimewa)

Pendidikan Timur Pradoko, SDN Purwoharjo (1979), SMPN Cluring (1982), SMAN 1 Malang (1985), Sarjana S-1 (1990) dan S-2 (2019) Universitas Jember. Awal karis sebagai Calon Hakim ditempuh di Tanah Kelahirannya, tahun 1992 hingga 1995. Kemudian tahun 1996 menjadi Hakim di Pengadilan Negeri Kapuas.

Selanjutnya berpindah-pindah menjadi Hakim di PN Pangkalan Bun tahun (2000), PN Tulungagung (2002), PN Sukabumi (2006), Wakil Ketua PN Waingapu NTT (2009), Ketua PN Waingapu NTT (2010), Ketua PN Lamongan (2012), Wakil Ketua PN Rababima (2014), Ketua PN Pangkalpinang (2015), Ketua PN Banyuwangi (2016), Hakim PN Surabaya (2017), Wakil Ketua PN Sragen 2019 dan Ketua PN Tanjungkarang (2019 sampai sekarang).

Suami dari  Wiwiek Wieryani, perempuan asal Pacitan, Jawa Timur ini, dikarunia dua anak putra dan putri. Putra bernama Tyatara Welnadi, SH, seorang advokat alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang. Sedang anak putrinya, Tasa Weharima, saat ini sedang menyelesaikan S-1 Fakultas Hukum Universitas Jember.

Dalam menangani perkara sebagai penegak hukum, Koko mengaku sering mendapatkan teror dan ancaman ditembak. Namun demikian, tidak menggoyahkan dalam menegakan keadilan. Bahkan Koko mengaku selalu nyaman, dimanapun tempat bertugas.

“Saya selalu beranggapan, semua kasus atau perkara itu besar dan penting, meskipun kata orang mencuri ayam itu kasus kecil, namun menurut saya penanganannyapun tetap harus sama,” tegas Hakim yang waktu mudanya senang tari Paju Gandrung ini.

Timur Pradoko, SH MH saat berlibur bersama istri dan kedua anaknya. (Foto: istimewa)
Timur Pradoko, SH MH saat berlibur bersama istri dan kedua anaknya. (Foto: istimewa)

Pengalaman tugas di berbagai daerah, bagi Koko sangat terkesan dengan budaya dan adat istiadat tempatnya bertugas. Ternyata apa yang dilihat langsung, sama persis dengan literatur yang dibaca saat masih di bangku kuliah. Bahkan cerita tentang seni budaya, kadang dibuktikan langsung dengan mendatangkan kelompok kesenian asal Banyuwangi.

“Saat menjadi Ketua PN Lamongan, saya secara pribadi mengundang langsung Kesenian Banyuwangi, sebagai bentuk sumbangan kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan. Responya cukup bagus, bahkan sejumlah Pejabat Pemkab Lamongan iku hanyut dalam tari Gandrung di alun-alun setempat. Ini cara saya mengenalkan daerah kelahiran saya ke orang luar,” pinta Hakim yang hoby Otomotif ini.

Sebagai putra daerah Banyuwangi, Koko mengaku sering menceritakan keragaman kesenian yang tumbuh di Bumi Blambangan. Bahkan dulu jaman masih duduk di sekolah dasar, ada kewajiban anak-anak Banyuwangi menguasai salah satu tarian atau gamelan Banyuwangi.

“Masyarakat tempat saya tugas, umumnya mudah memahami cerita saya tentang daerah kelahiran saya. Apalagi kegiatan-kegiatan di Banyuwangi banyak diexpose media masa, sehingga mereka langsung paham dan malah banyak yang penasaran ingin melihat langsung atraksi kesenian Banyuwangi secara langsung,” pungkas Koko yang juga masih sering pulang ke Banyuwangi bila ada kesempatan cuti. (sen)

_blank